Beranda Cerpenku

Memori Tentang Ayah

16 tahun yang lalu, kala itu rupa ayah masih muda. Tubuhnya sedang, kulitnya sawo matang. Ayah adalah pekerja keras.

Kala itu…

Ayah mengantar gadis kecil di sekolah SD 59, ia mengantar gadis kecilnya menuju sekolah dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh tidak begitu jauh, perumahan belum terlalu padat, pun transportasi tidak sepadat sekarang. Gadis kecil enam belas tahun lalu itu adalah aku.

Kami melewati beberapa perumahan lalu melintas di persawahan. Jalan itu ayah pilih supaya cepat sampai di sekolah. Ayah tak banyak berbicara. Ia berjalan di belakangku sambil sesekali memegang tanganku yang jika berjalan di persawahan hampir jatuh.

Tahukah kamu, ayahku sesampainya di sekolah mengantarku, ia tidak pulang. Ia menungguku hingga semua jam pelajaran usai. Saat itu aku masih kelas 1 SD, jam pulang tepat pukul 11.00 am. Jadi, ayah menungguku kurang lebih lima jam.

Ia duduk di dekat sekolah, duduk menepi disebuah bengkel mobil dan motor, ayah duduk menungguku.

Ketika itu aku sudah pulang. Kulihat ayah di seberang sana menungguku, tanpa memerhatikan jalanan saat menyeberang, aku hampir tertabrak mobil. Seinci lagi jarak mobil hampir menabrakku. Dan kulihat ekspresi ayah saat itu. Ia langsung menghampiriku lalu menggendongku. Wajahnya begitu panik, seolah terjadi bencana bumi. Ayah berkali-kali mengusap kepalaku.

Namun, kala itu aku belum mengerti kasih sayangnya. Kuanggap semua adalah permainan. Dengan polos, aku hanya tersenyum pada ayahku.

Kini, memori tentang ayah selalu mencuat, seperti rinduku yang tak terbendungi lagi. Sudah bertahun-tahun ayah diperantauan, aku begitu merindukannya. Memori akan kebersamaan ayah tak pernah habis dan pudar. Kuharap, Tuhan selalu melindungi ayah dalam sebaik-baik perlindungan-Nya.

2 thoughts on “Memori Tentang Ayah

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!