Beranda Cerpenku

Sebelum Kehilangan

images(3)846037062.jpg

“Percayalah, hal terberat setelah perpisahan adalah kenangan.”

Have you fall in love to someone that finally you end up your relation with him/her?

Mostly the answer is YES. Why? Hidup itu unpredictable banget. Hari ini kita bisa saling menyayangi, melakukan hal-hal konyol, saling mengucapkan janji setia, namun guess what for tomorrow? Itu bisa saja tinggal kenangan. Yah begitulah hidup. Terkadang, orang yang paling kita cintai justru bisa berbalik yang paling menyakiti, atau orang yang paling kita benci malah akan kita cintai. Who knows.

Aku masih teringat tentang kisah dari seorang sahabat. Kala itu kami bertemu tak sengaja disebuah festival budaya. Saling menanyakan kabar lalu berbagi kisah masing-masing. Dari raut wajahnya kupikir dia baik-baik saja, terlihat tanpa beban. Namun, kisah yang dia mulai dengan tatapan sedih membuatku ngilu.

Ia menjalin hubungan dengan kekasihnya mulai dari kuliah hingga selesai. Tahun ini katanya, dia dan kekasihnya berencana menikah. Mereka sudah lama menantikan itu. Namun, gadis yang paling dia cintai pergi untuk selama-lamanya. Penyakit dalam tubuhnya tak bisa membuatnya lebih lama.

Aku masih ingat ucapannya hari itu, “Aku ini lelaki. Namun, jika kau ingin tahu bagaimana perasaanku kehilangan orang yang paling kucintai itu ibarat seorang anak kecil yang ditinggalkan ibunya entah kemana. Aku menangis sejadi-jadinya untuk tiga bulan lamanya, hingga mungkin air mataku tak lagi banyak seperti dulu karena terus-terusan menangis. Lebay? Itulah yang kurasakan.”

Rasanya sesak mendengar kisahnya. Ia bilang jika kota yang mereka tempati dulu penuh kenangan. Karena kenangan itu, ia meninggalkan kota itu. “Rasanya sesak, jika kau berpergian di sebuah kota, lalu setiap sudutnya hanya mengingatkanmu tentang dia.”

Ia sempat bercanda denganku. Aku speechless saat itu, tak tahu harus berkomentar apa selain diam dan mendengar.

Katanya, gadis itu adalah sosok yang sangat berarti baginya. Setelah kematian kekasihnya, ia mencoba menerima dan melepaskan, mencoba ikhlas. Ia pun mencoba berkenalan dengan gadis lain. Namun, ia gagal. “Sulit rasanya mengikhlaskan seseorang yang tidak akan pernah bisa kau lupakan, meski kata ‘ikhlas’ itu begitu mudah.”

Sekali atau dua kali dalam setahun, ia pulang ke desa dimana kekasihnya dimakamkan. Mengunjungi pusaranya, membacakan Yasin di atas pusaranya, mencurahkan isi hatinya. Meski tak peduli jika ia tak bisa berhenti menangis.

“Aku mungkin takkan pernah mencari penggantinya.” Begitu katanya kepadaku. Ingin sekali kukatakan, cobalah untuk move on, jangan biarkan hidupmu seperti ini. Di alam sana, dia pasti menginginkanmu bahagia. Namun, alih-alih berkomentar seperti itu, aku urung. Rasanya, kehilangan seseorang yang kita amat sayangi begitu berat.

“Aku tak tahu garis takdir hidupku kedepannya, namun aku tak ingin berputus asa. Saat ini, aku hanya ingin sendiri.” Matanya berkaca-kaca. Aku tahu, dia menahan air matanya dan sungguh itu jauh lebih menyesakkan.

“Itulah kisahku. Jika orang yang kamu cintai masih hidup, gunakanlah waktumu yang sangat berarti untuknya. Kita tak pernah tahu kapan hidup ini berakhir. Jika mungkin dia telah mengkhianatimu, atau garis takdir kalian tidak bersama, jika dia masih hidup, kamu harus bersyukur. Masih bisa memandanganya dari jauh, mengetahui kabarnya sebelum dia pergi selama-lamanya. Sebelum kau kehilangan, rangkullah mereka yang kamu sayangi dengan rasa syukur dan waktu yang berarti.”

Kami pun berpisah. Pertemuan singkat dan tak sengaja itu takkan pernah kulupakan. Malam itu seakan Tuhan mengajariku arti memiliki. Seakan ditampar oleh kisah sahahabatku, aku pun belajar bahwa apa yang kita miliki, suatu saat akan kembali kepada Sang Pemilik.

6 thoughts on “Sebelum Kehilangan

  1. dulu .. saya sebelum menikah berfikir bahwa tidak akan pernah mencinta melebihi cinta saya kepada sang Khalik … karena toh cuma manusia.. memang ..saya ga pernah pacaran ..jd sangat cupu soalan perasaan apalagi cinta..

    sampe akhirnya menikah .. dan merasakan apa itu cinta .. disitulah saya benar2 merasakan bahwa sulit ternyata mencinta tak melebihi cinta kepada Rabb kita … ada rasa takut kehilangan .. ditambah setelah memiliki anak .. makin2 deh rasa takut kehilangannya .. tp hidup itu mendewasakan .. entah dr kisah org lain .. atau krn kisah kita sendiri ..

    dan kisah sahabatnya menginspirasi .. krn kehilangan itu adalah sulit dan berat

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!