Warning: file_get_contents(http://ipinfo.io/34.204.169.76): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 429 Too Many Requests in /home/ainc4129/public_html/wp-content/plugins/nm-visitors/nm-visitors.php on line 97
Rentang Waktu - Ainhy Edelweiss
Beranda Cerpenku

Rentang Waktu

Ada saat dimana ketika kita melakukan pelarian, entah itu lari dari kenyataan, masa lalu, bahkan lari dari ketakukan itu sendiri, pasti akan ada titik dimana kita berhenti. Dan aku berhenti di ‘kamu’.

____

Aku bertanya-tanya tentang keadilan. Dimanakah keadilan itu? Mengapa aku merasa bahwa hidup itu tak adil?

Ku usap cairan hangat di pipiku yang mengalir deras. Kukeraskan suara musik di kamar agar tak ada yang mendengar isak tangisku. Hidup di kota sendirian betul-betul menyiksa.

Aku telah kehilangan seorang sahabat, dia orang terdekatku, motivasiku yang sudah seperti keluargaku sendiri. Namun, hidup berkata lain. Semakin kami beranjak dewasa, semakin jauh dan terpisah kami melangkah.

Aku menjalin hubungan dengan seseorang. Aku bertanya-tanya, apakah aku mencintainya? Entahlah. Permasalahan yang kuhadapi begitu rumit. Aku labil, aku marah pada takdir, dan pikiranku kalap.

Aku tak ingin pulang di kampung halangan. Untuk apa? Nenek telah pergi selama-lamanya. Satu-satunya orang yang paling memahamiku pergi begitu cepat. Kalimat terakhir darinya masih terngiang. Bahkan sebelum pergi, nenek menyimpan uang saku untuk kuliahku pertama kali sebelum ke kota. Aku begitu merindukannya.

Sejak itu, rumah di kampung halaman menjadi sepi. Dan orang tuaku? Entah bagaimana kabarnya. Mereka meninggalkanku sejak kecil tanpa kabar sama sekali.

Aku berjuang demi membiayai kuliahku. Sekalipun jalan yang kutempuh begitu runyam. Dan, aku merasa bersalah. Aku telah menjual kehormatanku.

Namanya Evan. Kali pertama bertemu denganku dia begitu mempesona. Dia menawarkan bantuan terhadapku. Awalnya aku menolak, namun karena kesulitan dan tak memiliki siapa-siapa, aku menerima bantuannya. Tanpa kusadari, ia memanfaatkanku. Dia menjebakku.

Di malam saat aku terpaksa menginap di rumahnya, dia memberikanku obat tidur. Dan, aku tak mengingat apa-apa selain bercak darak yang kutemukan saat bangun.

Aku marah, menangis sejadi-jadinya. Dia hanya memandangku sinis.

“Sudahlah Ren, jangan munafik dhe. Lu nangis-nangis gitu.”

“Lu bilang gue munafik? Iyah gue emang munafik, tapi gak sampe gue mesti relain kehormatan gue.”

“Ren, gue udah bantu lu banyak hal. Udah ngebiayain kuliah dan hidup lu, yang gue ambil dari lu gak ada apa-apanya.

“Dasar bajingan!” Aku menjerit, batinku terluka, harga diriku terinjak-injak. Namun, apalagi yang bisa kulakuan selain menangis? Aku tak berdaya di hadapannya.

“Ren, sudah. Maafin gue. Gue akan tanggung jawab tapi tidak sekarang.”

Dia meninggalkanku sendiri. Berhari-hari di dalam kamar aku hanya menangis dan menangis. Pelarianku selama ini tak membuatku lebih baik. Justru menghancurkan hidupku.

Dia tak pernah lagi muncul dihadapanku bak ditelan bumi. Pergi meninggalkanku. Kusangka dia benar-benar mencintaiku. Aku marah. Marah pada diriku, pada kehidupan.

Aku diambang keputusasaan, tak berpikir jauh lagi, kulihat pisau di dalam laci kamar. Tanganku bergetar. Mungkinkah ini pelarian terakhirku? Mungkinkah aku bisa damai setelah mati?

Cairan hangat mengalir deras di kamarku. Semua terasa ringan. Beban hidupku seolah pergi. Dan aku lupa segalanya.

Nak, kembalilah. Bukan waktunya berkumpul sama nenek. Perjalanan hidupmu masih panjang. Kamu harus mewujudkan mimpi-mimpimu. Tuhan itu Maha Penyayang. Jangan sesali kesalahanmu. Jadikan ia pelajaran dalam hidupmu.

Aku melihat nenek di seberang jalan. Memandangnya terasa damai. Ia berpakaian serba putih. Melambaikan tangan padaku, lalu perlahan menghilang. Aku terbangun.

Ini rumah sakit. Kapan aku ada di sini? Siapa yang membawaku kesini? Perlahan aku bangun, namun tubuhku menolak kemauanku. Percobaan bunuh diri yang gagal. Namun, mimpi bertemu nenek dan pesannya membuatku haru. Lagi-lagi aku menangis.

Seseorang masuk bersama dokter. Ia begitu samar. Aku tidak mengenali siapa laki-laki itu.

“Hei Ren, masih mengenalku?” Ia tersenyum manis. Keningku mengerut. Aku tidak mengenalnya. Entah mengapa, mata dan lesung pipinya begitu tak asing bagiku.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana. Masih ingat si anak gendut kelas 1 B yang ngompol gak sengaja di kelas? Itu aku. Orang yang paling kamu benci.”

Aku tergagap. Astaga! Dia begitu berbeda. Seseorang yang selalu mengejar jawabanku atas perasaannya yang tak pernah kubalas. Jika dia datang untuk meminta jawaban, hasilnya tetap sama. Karena aku sudah bukan Ren yang dulu, Ren yang pantas dikejar. Aku tak memiliki apapun lagi dalam diriku.

“Ren, jangan menangis. Aku tak akan pernah menyerah. Kamu juga jangan menyerah dengan kehidupanmu. Aku selalu menunggu, kapan pun kamu siap. Aku tak lagi meminta jawabanmu untuk menjadi pacarku, melainkan menjadi pendamping hidupku. Tak peduli siapa kamu dan masa lalumu. Kita mulai dari awal lagi.”

4 thoughts on “Rentang Waktu

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!