Warning: file_get_contents(http://ipinfo.io/34.204.169.76): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 429 Too Many Requests in /home/ainc4129/public_html/wp-content/plugins/nm-visitors/nm-visitors.php on line 97
Tak Selamanya Duka - Ainhy Edelweiss
Beranda Puisiku

Tak Selamanya Duka

Seorang wanita menangis tersedu-sedu di pinggir pantai berlukiskan senja. Aku bisa bisa melihat punggungnya bergetar menahan sesak yang hanya dia dan Tuhan yang tahu seberapa dalam rasa dukanya. Ah, andai saja aku tak datang di pantai ini, mungkin tak kulihat lagi satu pemandangan yang juga menyayat hatiku. Perempuan menangis.

Yah, aku tak ingin melihat perempan menangis. Tidak setelah kulihat tangisan terakhir ibuku tahun silam. Semenjak itu, aku menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor. Sampai-sampai karirku melejit berkat kerja kerasku. Namun, sebetulnya itu hanya sebuah pelarian. Lari dari kenyataan bahwa sebagai anak lelaki tunggal, aku tidak bisa menyelamatkan duka ibuku sendiri.

Dan hari ini, aku berdiri di tempat dimana dulu ibu sering mengajakku ke pantai ini. Katanya, senja begitu indah. Siapapun yang melihat akan terpukau dengan keindahannya. Aku bertanya saat itu, mengapa senja begitu indah? Ibu menjawab, sebab senja indah dalam keheningan, ialah yang mengabadikan sekaligus menyadarkan kepada manusia bahwa ada jeda di antara pergantian siang dan malam, ada keindahan yang abadi kala manusia sibuk di siang dan malamnya. Menatap senja, akan mengisi relung hatimu paling dalam bahwa Tuhan tak pernah tidur, senja sebagai pengingat betapa ia Maha Kasih.

Lamunanku buyar seketika. Perempuan dihadapanku itu kini tertawa. Tak ada lagi suara isak tangis, dia seolah menata kembali apa yang telah mengguncang jiwanya. Namun, aku hanya diam terpaku. Kini perempuan itu tertawa, seolah menertawakan gulungan ombak.

Ia berpaling kearahku. Ia tersenyum. Dan senyumnya itu… Mengingatkanku pada sosok ibu.

Astaga, aku berhalusinasi. Sosok itu hilang seketika, kucari diantata remang cahaya dibawah senja. Tak ada siapa-siapa. Aku terdiam. Rupanya, perempuan itu adalah sosok ibuku. Barangkali, aku belum sepenuhnya berdamai dengan dukaku. Hingga menciptakan bayangan seolah nyata kemudian hilang seketika.

Keheningan senja membuatku bergeming. Membuatku mendengarkan suara hatiku lebih jernih. Katanya, duka tak selamanya membayangi hidup. Namun, duka sejatinya menjadi pengingat bahwa sekuat apapun manusia, sesungguhnya ia lemah dan membutuhkan kehadiran Tuhan. Dukalah yang menjadikan nikmat saat bertemu dengan kebahagian. Dan duka pula yang membawa manusia kembali pada dirinya.

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!