Warning: file_get_contents(http://ipinfo.io/100.24.209.47): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 429 Too Many Requests in /home/ainc4129/public_html/wp-content/plugins/nm-visitors/nm-visitors.php on line 97
Pohon Tua - Ainhy Edelweiss
Beranda Puisiku

Pohon Tua

“Sebatang pohon tua tak berdaun berdiri kokoh di bawah senja. Bukankah itu indah?”

“Pohon ini sudah tua Hans, ia dua kali lipat jauh diatas usia kita.” Ucap Leny menaruh tongkatnya di atas tanah.

Dengan susah payah ia perlahan duduk tak jauh dari pohon tua di depannya. Leny tak sendiri. Bersama Hans, mereka menikmati senja setiap hari. 17 belas hari lagi usianya genap 70 tahun. Namun, ia diatas rata-rata kebanyakan orang. Masih menyempatkan waktunya di masa tua memandangi senja bersama Hans, kekasihnya sejak 49 tahun yang lalu. Kini, ia memandang Hans. Lelaki yang merupakan cinta pertama dan terakhirnya. Lelaki, yang mengajarkan keindahan senja.

“Mengapa kau menatapku? Apakah aku lebih indah daripada senja di hadapanmu ini Leny?” ucap Hans melirik kekasihnya sekilas lalu kembali memandang senja. Leny tak pernah tahu bahwa Hans begitu mencintainya sejak 49 tahun yang lalu. Pembawaannya yang cuek, seolah menjadikan karakternya melakukan apapun terlihat biasa-biasa saja. Hanya senja dan pohon tua yang tahu bahwa Hans adalah orang pertama yang akan mengutuk dirinya jika Leny bersedih. Namun, sore ini Hans akan mengucapkan sebait kalimat yang selama ini dirindukan oleh Leny. Sebait kalimat sebelum Hans benar-benar pergi untuk selama-lamanya.

“Len, kamu tahu mengapa aku tak pernah mengutarakan perasaanku padamu meski sudah berpuluh tahun kau menjadi kekasihku, dan meski kesabaranmu telah melampaui cintamu sendiri?” Hans menatap dalam Leny. Ia menggenggam jari-jemari kekasihnya yang sudah lanjut usia.

“Tidak perlu Hans, meski tidak pernah kau ucapkan, aku tahu bahwa kebersamaan kita adalah cinta itu sendiri. Bahwa cintalah yang membuatmu rela mengunjungiku di setiap hari senin menyaksikan senja.” Leny membalas tatapan Hans, tak ada kebencian apalagi penyesalan untuk waktu yang telah mereka lalui.

“Kau tahu mengapa pohon tua di hadapan kita meski gugur daunnya tak pernah mati?” Tanya Hans.

“Aku tak tahu…” Jawab Leny.

“Karena aku menyimpan rahasia di pohon itu bersama senja yang sering kita pandangi setiap hari senin.” Ucap Hans.

“Apa itu?” Tanya Leny penasaran.

“Aku mencintaimu Leny, benar-benar mencintaimu. Dan cintaku, ibarat pohon yang tak pernah menyentuh senja walau memandanginya setiap hari. Dan meski dedaunan pohon tua itu habis, ia akan tetap tumbuh mengakar ke dalam tanah. Begitupun aku. walau usia telah membuat kita tua dan sebentar lagi menjumpai kematian, ingatlah bahwa aku tak pernah berhenti mencintaimu, maafkanlah kesalahanku.” Hans menangis di hadapan Leny.

“Apakah pohon pernah bertanya kepada dedaunannya sebelum pohon itu menggugurkannya? Apakah senja pernah memberikan waktu lebih pada pohon tua? Senja tak pernah lama. Namun, wujud cintanyalah pada pohon tua sehingga senja menyapa walau sesaat. Tak ada yang perlu dimaafkan Hans, kau mencintaiku seperti senja mencintai pohon tua. Dan aku, mencintaimu seperti pohon mencintai senja.”

Keduanya larut dalam keheningan. Hingga senja meninggalkan pohon tua. Hingga pohon tua tetap berdiri memandang langit dan tak tersisa kecuali akar yang makin menguat, menjuntai kedalam tanah.

____

24 August 18

Source Picture: Google.com

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!