Beranda Puisiku

Setetes Air Mata

Puisi Setetes Air Mata

“Bila kau harus menangis, cukup setetes saja, jangan lebih!”

Mata kiri bagian bawah berkedut sejak dua hari. Mitos di kampung selalu terngingang. Katanya, kalau mata kiri bagian bawah berkedutan, tunggu saja kabar buruk yang pasti membuatmu menangis! Selalu kutampik mitos ini, anehnya setiap mengalami kejadian serupa, mitos itu terjadi. Ada saja hal-hal sedih yang pasti membuatku menangis.

Sudah dua hari mata kiriku berkedutan tapi malah aku merasa biasa-biasa saja, bahagia malah. Saat terlintas mitos tersebut, aku menampiknya walau dalam hati berdoa agar hal tersebut tidak terjadi.

Saat beranjak ke tempat tidur, kubuka sekilas laman facebookku. Aku terkejut melihat notifikasi pesan pribadi sebanyak 9 pesan. Kubuka pesan facebookku, dan rupanya itu dari adikku. Tumben sekali adikku mengirim pesan sebanyak ini biasanya sangat singkat itupun kalau dibalas. Segera kubuka pesan dari adikku. Dan, seketika tanganku bergetar, hatiku ngilu seketika, tanpa kusadari bulir-bulir air mataku terjatuh. Pesan adikku seperti hujan batu yang turun dari langit. Tak pernah berhenti menghunjamku malam itu, membuat pertahanan kekuatanku yang kubangun sebulan lalu hancur seketika. Aku menangis. Yah aku menangis, padahal aku sudah berjanji tak boleh menangis lagi bahkan jika itu setetes air mata.

Kupeluk boneka beruangku erat-erat. Aku kembali ke titik awal hidupku. Berjuang dengan jalan yang begitu terjal, sementara yang kupunya hanya sebuah lilin harapan. Dan sekali lagi, aku merasa seperti pecundang.

Kubiarkan bulir-bulir air mataku mengalir, begitu deras hingga kutertidur dalam perasaan yang begitu berkecamuk.

____

Makassar, 15 September 2018

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!