Beranda Cerpenku

[Cerpen] Wawancara

Cerpen Wawancara

“Nak, ada satu lagi ilmu yang harus kau kuasai sebelum pergi merantau.”

“Apa itu mak?”

“Seni bersilat lidah nak.”

“Loh, emangnya ada lidah yang bersilat? Kayaknya Cuma badan deh mak.”

“Badanmu kurus kerempeng, pendek pula. Kau mudah sakit, kena hujan sedikit saja langsung pingsan, mau apa kamu di tanah rantau kalau seperti itu. Makanya kau harus pandai bersilat lidah sebab badanmu tak mampu.”

Suatu hari di hari sabtu, pergilah Bayu merantau di negeri Seberang. Ia hanya membawa satu koper tas dan satu lagi tas kecil sebagai jimat pemberian emak. Setelah menguasai ilmu bersilat lidah dari emak, ia merasa percaya diri mencari pekerjaan di tanah rantau.

Hari wawancara telah tiba, Bayu dengan setelan jas seadanya, ukurannya jauh lebih besar dari badan membuatnya terlihat tenggelam di antara lengan-lengan bajunya. Tak apalah, ia menghiraukan semua tatapan orang-orang yang memandangnya sinis.

“Huft liat saja nanti siapa yang akan diterima di tempat ini.” Pekik Bayu dalam hati.

Ia menggenggam nomor antrian ke tiga puluh lima.

Satu persatu calon pekerja meninggalkan ruang tunggu, hanya Bayu yang belum disebut-sebut namanya. Usai dhuhur tak juga dipanggil namanya, usai ashar tak juga dipanggil namanya. Bayu mulai gelisah sementara sisa satu orang yang duduk di sebelahnya.

“Kau sama dengan saya yah belum dipanggil namanya dari tadi. Mana perut sudah lapar. Siapa nama kau?”

“Lilis…”

“Nama yang cantik.”

……

“Tinggal dimana kau Lilis?”

“Untuk apa kamu nanya gitu?

“Saya mau tau saja, tidak bolehkah?”

“Oh gak jauh dari sini. Wajarlah namaku belum dipanggil, tuh liat nomor urutku.”

“Tiga puluh Empat. Kita Cuma beda satu angka. Apa masalahnya?”

Perempuan itu hanya menggeleng tak percaya.

“Kita dipanggil berdasarkan nomor urut, masa kamu gak sadar sih. Setelah tiga puluh emat kan tiga puluh lima. Nah setelah aku masuk di dalam baru giliran kamu, gimana sih.”

“Begitukah? Saya pikir ini nomor adalah jimat. Eh ternyata nomor antri yah, di kampung saya tidak ada yang seperti ini.”

“Ampun dehhh…. Kamu kesini melamar sebagai apa?”

“Juru bicara! Emak bilang asal saya pandai bersilat lidah, saya bisa kerja dimana saja. Tapi, saya mau jadi juru bicara!.”

“HahHA… kamu salah alamat. Bukan disini tempatnya. Disini tidak dibutuhkan juru bicara apalagi kalau cuma pintar bersilat lidah. Kamu tidak sadar, semua orang bisa bersilat lidah apalagi di kota ini. Kamu nggak baca persyaratan kerja di tempat ini?”

“Apa itu?”

“1. DILARANG BICARA SELAMA KERJA. 2. MEMATUHI SEGALA ATURAN YANG ADA. 3. BANYAK BELAJAR DARI ROBOT. 4. BEKERJALAH MELEBIHI ROBOT.”

Bayu termangu. Ia diam seribu bahasa. Mana mungkin ia tidak bisa bicara barang satu menit pun, ia sudah pandai brsilat lidah, wejangan dari emak yang tidak bisa ia lupakan. Ia juga bukan tipikal orang yang bisa patuh, instingnya untuk melawan masih melekat sebab di kampung halamannya ia diajarkan bak singa yang siap menerkam kapan saja apalagi belajar dari robot. Robot? Benda apapula itu. Ia tak mengerti. Nyatanya mencari kerja di negeri Seberang tak sesuai dengan harapannya. Ia bergegas meninggalkan perempuan yang duduk disebelahnya. Ia baru sadar perempuan itu tak memiliki hati yang berdetak. Segera ia meninggalkan ruangan yang disesaki robot, namun saat hendak membuka gerbang, ia disergap. Tubuhnya dibaringkan ke tanah, kaki tangannya diikat, sepintas ia melihat semacam alat bergerak di atas dadanya, ia kini mengerti, sebentar lagi benda itu akan mencabut hatinya yang berdetak.

________

Makassar, 17 September 2017

Sumber gambar: google.com

4 thoughts on “[Cerpen] Wawancara

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!