Beranda Puisiku

Kar-ba-la

Seorang musafir berpakaian compang-camping

Menyusuri padang gurun nan luas, haus, tandus, kering

Kemana arah langkahnya ia tak tahu, hanya mengikuti lukisan bintang-bintang di malam hari

Musafir itu tak menyukai siang, ditipu berkali-kali oleh fatamorgana gurun

Kendinya tak bersisa air setetes pun, dahaga melilit tenggorokannya, ia tak peduli lagi dengan tipuan fatamorgana

Oh gurun.. Saksi bisu perjalanan manusia

Musafir itu terjatuh, samar-samar ia dengar hentakan kaki kuda

Riuh melengking di telinga, sama-samar ia lihat pasir gurun bergulungan, kuda-kuda berlarian, panah-panah beterbangan

Tidak, mana mungkin fatamorgana terlihat jelas di hadapannya

Darah, darah mengalir di bawah kakinya, darah itu masuk ke tubuhnya merengkuh hatinya

Ia ngilu, ia pilu, ia sakit, ia menderita

Oh inikah karbala? Teriak para penonton di kejauhan

Sekali lagi musafir itu melihat fatamorgana, benarkah itu fatamorgana?

Orang-orang berteriak, tidak! Itu Karbala wahai musafir!

Sang musafir kehilangan kendi, kehilangan kaki, kehilangan tangan,

Sang musafir terbangun,

“Oh rupanya aku masih di tempat tidur, itu hanya mimpi. Apa itu Karbala?”

_____

Makassar, 20 September 2018

4 thoughts on “Kar-ba-la

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!