Beranda Puisiku

Payung Takdir

Payung Takdir

September tujuh belas tahun dua ribu tiga belas

Hujan begitu deras mengguyur desa Harapan. Seorang gadis berpayung merah terus berjalan tanpa menghiraukan derasnya hujan. Percuma saja ia memakai payung, tubuhnya sudah basah kuyup diterpa hujan yang liar hari itu, tak memberi ampun pada seorang gadis yang berlindung di bawah payung.

Namanya Rani. September bukan lagi bulan ceria di tahun itu. September, bagaikan tusukan paku tajam yang siap menerkamnya kapan saja setiap kali ia mengingat nama itu. Aldo.

Dia benci lelaki bernama Aldo, dia bahkan benci semua lelaki dengan inisial A. Kelak ketika semesta masih berpihak padanya, dia tidak akan memberikan nama anaknya dengan inisial A.

November tujuh belas tahun dua ribu sepuluh

Sepasang kekasih memadu cinta di ujung senja. Di bawah payung merah mereka mengikrarkan janji setia. Sang lelaki mengikatkan cincin di jemari gadisnya, walau cincinnya murah bahkan tak berharga namun membuat bidadari langit cemburu.

“Aldo, kamu yakin ingin menikahiku? Kamu yakin gak akan menyesal suatu hari nanti?”

Lelaki itu diam sejenak, menatap mata yang begitu indah, mata yang selalu dia rindukan. Untuk sesaat, dia tersenyum.

“Kamu sudah tahu kan resiko saat menikah denganku?”

Hening.

“Tak lama lagi hidupku di dunia ini. Apa kamu tak takut kehilanganku?”

Aldo hanya menatap sekali lagi mata yang selalu ia rindukan. Cukuplah senja menjawab semua pertanyaan Rani, cukuplah cincin itu yang menjadi saksi kesungguhan Aldo. Sebab, ia lelaki bisu yang tak mampu berbicara, namun seutas senyum membuat Rani yakin jika dialah lelaki pilihannya.

Semesta selalu memiliki keselarasan, begitupun cinta Rani dan Aldo. Sepasang kekasih yang tidak sempurna dalam artian sebenarnya. Rani yang mengidap kanker, Aldo si lekaki bisu.

Januari tujuh belas tahun dua ribu sebelas

Senja kini merindukan sepasang kekasih yang selalu menunggunya di bawah pagung merah. Sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi berkunjung. Akankah mereka sudah bahagia hingga melupakan senja, tempat pertama kali mereka bertemu? Senja pun berlalu. Senja tak tahu bahwa keduanya telah berpisah. Lelaki bisu yang mengikrarkan janjinya di bawah senja tergerus oleh pusaran waktu dihadapkan pada sebuah realitas.

Oktober dua puluh satu tahun dua ribu sebelas

Ia menghadapkan wajahnya di depan cermin, tak ada tanda-tanda kebahagiaan di wajahnya, namun ia harus berpura-pura terlihat bahagia meski hatinya sudah hancur berkeping-keping. Ia melihat dirinya di dalam cermin, membenci bayangan dirinya sendiri. Mengapa ia begitu tega meninggalkan Rani? Apakah waktu ataukah semesta yang mesti ia salahkan? Ia tidak begitu paham semua kejadiannya berlalu begitu cepat. Ingin sekali ia meninggalkan ruangan itu, meninggalkan orang-orang yang tak peduli dengannya selain pernikahan berdasarkan perjodohan. Apa yang bisa diperbuat? Ia hanya lelaki bisu yang suaranya tak mampu didengar oleh siapapun. Sekali lagi ia menatap cermin, ia ingin berdoa, namun semua sudah ditelan oleh waktu.

September tujuh belas tahun dua ribu tiga belas

Rani berhenti di depan sebuah rumah, sebelum memasuki rumah, ia berhenti dibawah guyuran hujan. Membuka payungnya, membiarkan setiap tetes hujan membasahi tubuhnya. Ini kesekian kalinya Rani membiarkan dirinya basah kuyup, membiarkan setiap tetes hujan menyamarkan air matanya. Sudah bertahun-tahun ia berusaha melupakan sosok yang selama ini dicintainya. Ia begitu benci tapi tak bisa berhenti mencintainya. Lelaki bisu yang membuatnya kembali menemukan hidup setelah perjuangan melawan penyakitnya, kini hidup bahagia dibawah payung takdir.

____

Makassar, 20 September 2018

Sumber gambar: google.com

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!