Beranda Cerpenku

#1 Mileni

“Hai, kenalkan namaku Mileni. Aku bukan Milea seperti nama yang sering kudengar saat tiba di era Milenial sebut orang-orang pada waktu itu. Ah sayangnya aku harus pulang dan kembali ke asalku. Mesin waktu belum sempurna seutuhnya. Itu mesin buatan kakekku, Sphins. Aku menulis ini kepada siapa saja yang menemukan benda yang disebut orang-orang Milenial sebagai ‘Smart Phone’. Aku tak bisa membawa benda ini ke asalku.”

September 2018

Aleeya ditinggal rombongannya jauh berjalan di depan. Jalannnya memang lambat, susur pantai kali ini terasa membosankan, meski tertarik di organisasi penjelajah pantai sebagai bagian dari misi menyelamatkan alam, Aleeya merasa itu hanya sebuah simbol dari orang-orang yang pura-pura menjaga kelestarian alam nyatanya merusak alam. Ia muak melihat pemandangan di sekitarnya saat harus bergaul dengan teman seusianya, semua sibuk menggenggam sebuah benda kecil serupa dengan kotak persegi yang memiliki sebuah layar yang hanya sekali sentuh memunculkan banyak gambar. Ia begitu muak ketika berjalan di sekitar kota tempatnya tinggal namun, mendapati kebanyakan orang-orang lagi dan lagi menggenggam benda kotak persegi itu. Semua tertunduk, semua tertawa, semua berbicara, semua terfokus pada benda itu, hanya sesekali menoleh terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Apa kata langit jika alam tidak dilirik sedikitpun oleh manusia yang hanya sibuk mengurusi benda itu?” Pekik Aleeya dalam hati. Ia kembali tersadar telah tertinggal oleh rombongannya. Kali ini ia harus berlari mengejar rombongannya yang sudah jauh menyusuri pantai.

“Hah, menyusuri pantai? Untuk apa? Kalian hanya sibuk mengambil angel gambar lalu berselfi ria, dalam hitungan beberapa detik, semua diupload di sosial media.” Lagi-lagi hanya pekikan protes dalam hati yang terdengar oleh Aleeya sendiri. Ia tak mampu mengutarakan rasa muaknya pada teman-teman di sekitarnya pun ia tak mampu membuat sesuatu yang bisa viral di sosial media agar menyadarkan kepada orang-orang di kotanya betapa bosannya kehidupan yang ia jalani, ia merasa kesepian dan menyimpan dalam-dalam rasa itu. Baginya, percuma mengutarakan rasa muaknya kepada mereka, kalaupun viral paling hitungan hari lalu semua kembali seperti semula, sia-sia.

Langit bertabur bintang

Mileni tersenyum ria di bawah sinar rembulan, ia dan keluarga sukunya menari di dalam lingkaran menyanyikan lagu untuk didengarkan penjaga langit. Nyala perunggu api ikut menyesuaikan irama nyanyian Mileni, betapa malam bertabur bintang menjadi saksi sekumpulan manusia-manusia sederhana di wajah mereka.

“Mileni, kemarilah.” Suara parau kakek Sphins menghentikan nyanyian Mileni, ia mundur dari perapian dan segera menghampiri sang kakek. Kakek Sphins adalah tetua leluhur suku Mileni, sebentar lagi ia akan menyatu dengan tanah menurut ramalan, tapi sebagai tetua suku, kakek Sphins memiliki pengetahuan melampaui orang-orang di sukunya. Ia menyimpan sebuah rahasia yang hanya akan diberitahukan kepada cucunya, Mileni.

“Sebuah perjalanan waktu Mileni. Aku telah menemukan sebuah perjalanan waktu. Kelak, kau harus berkunjung ke waktu itu, kau akan bertemu dengan seseorang yang mirip denganmu, Namun, penemuanku ini belum sempurna. Kau hanya bisa menggunakannya sekali perjalanan untuk waktu yang begitu singkat.”

Mileni hanya menyimak penuturan kakek Sphins sambil bergumam. Ia begitu mengagumi penemuan kakeknya kali ini. Sebetulnya, Mileni tidak perlu melakukan perjalanan waktu apalagi mengintip masa depannya, ia sudah puas dengan kehidupan yang dimilikinya saat ini, keluarga yang bahagia, bebas dari segala bentuk penjajahan, hidup berkelana dari hutan ke hutan, dan kebersamaan suku yang membuat langit cemburu hingga menaburkan bintang-bintang. Tapi, ia penasaran dengan sosok yang katanya mirip dengannya. Bagaimana dan seperti apa sosok yang begitu mirip dengannya?

September 2050

Aleeya terpaku di depan cermin, cermin di hadapannya ini bukan lagi cermin biasa yang ia gunakan tiga puluh tahun yang lalu. Jika dulu ia merasa muak dengan segala kehidupan yang sangat membosankan, kini ia sudah pasrah menjalani kehidupannya sehari-hari. Waktu pun berlalu begitu cepat, Mileni menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Jika dulu ia sering menggerutui benda berbentuk persegi itu, kini di usianya yang sudah setengah abad semakin mengutuk benda yang kini berevolusi itu. Manusia tak lagi menggenggam benda itu kemana-mana. Hanya sebuah chip ukiran 2 cm setebal helai rambut ditanamkan disetiap pergelangan tangan manusia. Hanya memikirkan sebuah perintah untuk berkomunikasi yang mengontrol hal-hal teknis melalui pikiran maka benda kecil di pergelangan tangan manusia akan bekerja. Hidup serba mudah, namun menyisakan kehampaan di hati Aleeya. Ia merasa hidup bagaikan mayat, tak punya jiwa. Semua yang dilihatnya hanya kepura-puraan semata, senyum yang palsu, teman yang palsu, bahkan keluarga palsu.

Cermin di hadapan Aleeya tiba-tiba bersuara. “Alert! Anda harus melakukan facial anti penuaan dua puluh menit lagi.” Aleeya segera tersadar dari lamunannya. Lihatlah, bahkan kini cermin jauh lebih pintar daripada manusia. Kecanggihan teknologi telah mematikan sebagian kecerdasan manusia, menggantinya dengan jebakan kenyamanan. Tapi apa daya. Aleeya hanya mampu berceloteh tanpa mampu menyuarakan pendapatnya. Di kota tempat ia tinggal, hak berpendapat sudah tidak lagi dimilikinya. Jika melawan, Aleeya akan dibuang ke gudang bersama dengan barang rongsokan teknologi yang sudah tidak dipakai lagi.

Aleeya menonaktifkan perintah ke cermin. Ia kini duduk di sofa, pandangannya tertuju pada sebuah kotak di bawah lemari elektriknya. Sebuah ingatan masa lalu kembali merayap di pikirannya.

Saat hendak meninggalkan pantai, Aleeya mendapati sebuah benda persegi mirip dengan Smart Phonenya. Karena merasa ragu, Aleeya mendekati benda yang dibawah ombak itu ke tepi pantai. Aleeya melihat kesekeliling berharap ada orang yang akan mengklaim benda ini, tapi semua orang cuek dan sibuk dengam masing-masing Smart Phonenya. Tanpa pikir panjang, Aleeya mengambil benda itu. Ada rasa penasaran yang aneh membuat Aleeya iseng mengambil benda yang menurutnya cukup unik. Berbeda dengan Smart Phone miliknya, benda itu berwarna hijau berkilauan, layarnya terbilang unik dibanding Smart Phone miliknya. Belum pernah ia dapati model Smart Phone seperti ini. Barangkali hanya sebuah kebetulan. Aleeya dengan rasa penasaran menyentuh layar Smart Phone hijau itu dan beberapa detik kemudian, muncullah sederet baris berupa kalimat-kalimat yang ia tidak paham bahasanya.

“Bahasa apa ini? Aku belum pernah mengenali huruf-huruf ini.” Ia bingung dengan penemuannya sendiri. Sebuah pesan dalam bahasa yang tak dimengerti Aleeya kini dalam genggamannya. Rasa penasaran terus menjanggal dalam pikirannya . Ia kini mengambil Smart Phonenya di dalam tas. Menepi di sebuah rumah dekat bibir pantai, ia tak lagi peduli dengan rombongannya yang sudah jauh melanjutkan perjalanan.

Aleeya memotret tulisan yang terpampang di layar Smart Phone hijau temuannya. Dalam hitungan detik, google terjemahan mencoba menerjemahkan trascript tulisan tersebut dan hasilnya nihil.

Unidentified? Kok bisa???” Aleeya tampak kesal. Ia berharap dapat segera mengetahui arti tulisan tersebut, ia bukan tipikal orang yang mau menerima apa saja jika menemukan sesuatu, menjadi seorang yang kritis membuatnya asing dikalangannya sendiri. Akhirnya Aleeya mencoba cara lain, ia kembali menyentuh layar Smart Phone hijau itu, namun tidak bereaksi apa-apa selain tulisan script itu yang selalu muncul.

“Aduh… Kok gini yah.”

Setelah satu jam mengotak-atik Smart Phone hijau tersebut, Aleeya memutuskan membawa benda itu ke rumahnya. Ada daya tarik pada benda itu yang membuat Aleeya undur membuangnya. Siapa tahu nanti di masa depan ia dapat menerjemahkan tulisan tersebut.

“biiipp….biiippp….”

Aleeya tersadar dari lamunannya. Suara dibalik kotak itu mengagetkannya. Baru saja ia berniat mengambil kembali Smart Phone hijau yang sudah puluhan tahun disimpan kini mengeluarkan suara dering untuk pertama kalinya.

“Apa yang terjadi ? “

Ia segera bergegas membuka kotak persegi yang kunci sandinya hanya ditahu oleh Aleeya. Meski tanpa disadari, semua program Aleeya dicatat oleh chip yang tertanam di pergelangan tangannya. Tak ada yang bisa luput dari kecanggihan teknologi.

Smart Phone hijau itu diusap oleh Aleeya, dengan sigap, ia menonaktifkan semua perangkat di dalam kamarnya, memberikan setting malam hari, padahal sebenarnya di luar masih siang. Aturan di kotanya akan mengurangi pengintaian privasi saat hendak tidur di malam hari. Kini, ia mengambil risiko untuk mengetahui sesuatu.

Smart Phone hijau ditangannya mengeluarkan cahaya. Tulisan script menggunakan bahasa yang tak dimengerti Aleeya kini berubah. Ia kaget. Tulisan yang selama ini ingin dibacanya dalam hitungan detik berubah. Kini ia mampu membaca tulisan tersebut menggunakan bahasanya.

6000 SM tahun bertabur bintang

“Hai, kenalkan namaku Mileni. Aku bukan Milea seperti nama yang sering kudengar saat tiba di era Milenial sebut orang-orang pada waktu itu. Ah sayangnya aku harus pulang dan kembali ke asalku. Mesin waktu belum sempurna seutuhnya. Itu mesin buatan kakekku, Sphins. Aku menulis ini kepada siapa saja yang menemukan benda yang disebut orang-orang Milenial sebagai ‘Smart Phone’. Benda peninggalan kakekku inilah yang membawaku kemari,sebelumnya ada peringatan jika benda ini belum sempurna namun, rasa penasaranku membawaku kemari. Aku telah melakukan tiga kali perjalanan. Perjalanan ke tahun 2018, 2060 dan kembali ke tempat asalku. Aku miris melihat pemandangan di tahun 2060. Semua manusia berjalan bagaikan robot, aku malah curiga kalau semuanya memang bukan manusia tapi robot, atau tetap manusia namun tidak menyadari kemanusiaannya. Mengapa mereka tidak menjaga alam dan terpaku pada teknologi yang membuatnya jauh dari alam ? Para leluhurku sangat menjaga kelangsungan alam, alam bagi kami adalah wajah Tuhan di bumi ini. Tapi mereka melupakan pesan para leluhurku. Ah, sayang sekali. Aku tak mampu berbicara dan memperingatkan manusia di tahun 2060. Ada satu orang yang memegang kendali semua teknologi di bumi masa itu. Ia menggenggam semua data manusia di Bumi dan mengubahnya kapan saja dia mau. Dialah dalang dibalik kemirisan penggunaan teknolgi masa itu. Namun, tak mudah menghancurkan orang yang memegang kendali itu, iya dilindungi tujuh lapis bangunan raksasa yang hanya bisa diakses mulau Smart Phone hijau ini. Aku tak bisa berlama-lama. Informasi ini penting untuk keberlangsungan manusia. Segera kulanjutkan perjalanan waktu untuk menemukan seseorang yang paling mirip denganku.

Tahun 2018. Aku menemukan seseorang yang mirip denganku, sialnya aku tiba di bibir pantai yang kencang ombaknya. Aku melambai-lambai ke arahnya tapi ia sibuk dengan pikirannya. Kulihat tanda nama yang tertulis bajunya “Aleeya.” Rasa kaget bercampur kagum karena menyadari sosok yang begitu mirip denganku. Sayangnya, saat dia hendak menoleh aku kembali tertarik oleh pusaran waktu yang membawaku ke tempat semula. Aku tak bisa menyampaikan rahasia yang kutemukan di masa depan, untuk itu aku menulis sebuah pesan di Smart Phone hijau tua milik kakek Sphins ke dalam bahasaku. Butuh waktu puluhan tahun untuk agar benda ini otomatis menerjemahkan ke dalam bahasanya karena benda ini belum seutuhnya sempurna. Jika kau membaca ini, selamatkanlah manusia yang terpenjarakan kemanusiaannya di masamu. Benda ini menjadi satu-satunya kunci keselamatanmu. Benda ini tidak hanya mampu menembus dan menonaktifkan semua aktifitas seseorang yang mengontrol kotamu, tapi benda ini berisi pesan-pesan dari para leluhur yang akan menyelamatkan kemanusiaan orang-orang di masamu. Cepatlah bergegas jangan biarkan mereka menghalangimu. Selamat tinggal Aleeya.”

Aleeya menahan nafasnya beberapa detik. Ia kini mencerna semua hal yang baru saja ditemukan. Tentang keganjalannya menjalani kehidupan sehari-hari, tentang perasaannya yang hampa, tentang orang-orang disekitarnya yang berjalan bagaikan mayat, tentang kota tempat ia tinggali, ia kini memahami sesuatu. Inilah saatnya bagi Aleeya mengembalikan apa yang harus dikembalikan di Bumi ini. Usianya yang sudah setengah abad tidak mampu menghentikan langkahnya. Ia harus menyelamatkan Bumi dan generasi selanjutnya dari tangan tak bertanggung jawab yang menjadi pemegang kendali dari semuanya.

Ia kini membuka chip yang ada di pergelangan tangannya, menggantinya dengan chip yang diambil dari Smart Phone hijau. Semua ingatan akan kehidupan di masa lampau kini terekam jelas melalui chip itu. Namun, saat hendak meninggalkan rumah kediamannya. Ia dikejutkan oleh segerombolan robot yang kini mengepung rumahnya.

“Apa yang harus dilakukan?”

_____

Tobe continued

Makassar, 27 September 2018

Sumber gambar: google.com

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!