Warning: file_get_contents(http://ipinfo.io/34.204.169.76): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 429 Too Many Requests in /home/ainc4129/public_html/wp-content/plugins/nm-visitors/nm-visitors.php on line 97
Sapu Tangan Berwarna Ungu - Ainhy Edelweiss
Beranda Cerpenku

Sapu Tangan Berwarna Ungu

Berhias, bukanlah kebiasaanku seperti perempuan pada umumnya. Namun, sejak mengenalnya, jantungku berdetak tak karuan saat berada di dekatnya, sejak saat itu, aku mulai lebih sering berdiri di hadapan cermin. Memastikan semuanya terlihat sempurna saat berada di hadapannya.

Ah sial, inikah perasaan aneh itu? Seperti cerita para sahabatku di bangku kuliah. Katanya, perasaan cinta bisa merubah segalanya. Yang benci jadi rindu, yang jelek menjadi cantik, yang cepat menjadi lambat, bahkan selokan di sepanjang pemukiman yang awalnya dipandang jijik, dapat berubah menjadi pemandangan yang begitu menakjubkan saat jatuh cinta. Seperti kisah Andrea Hirata yang jatuh cinta pada A Ling.

Dulu, bercermin selama tiga menit sudah sangat cukup sebelum berangkat kuliah, malah masih terasa lama. Asal sudah mandi dan rapi, aku tak peduli dengan segala tetek bengek yang berkaitan dengan fashion perempuan. Terkadang aku merasa geli saat berada di kampus. Mila, Nita, dan Eka adalah sahabatku sejak semester pertama. Mereka inilah yang paling ribet sesaat sebelum kelas dimulai.

“Bedak gue tebal gak?” ucap Nita sambil memegang cermin.

“Lipstik gue udah rata belum? Timpal Mila yang memonyongkan bibirnya.

“Jilbab gue matching gak sama gaya baju gue? Ini loh mode baru ala Laudya Cyntia Bella…” Eka berdiri di hadapanku begitu percaya diri bak model yang sebentar lagi berjalan di atas catwalk.

Keningku berkerut. Mereka ini sudah tahu bahwa aku tidak suka dan tidak mau ambil pusing soal fashion kekinian, malah memberi pertanyaan-pertanyaan yang membuatku geli.

“Hmm… Kalian tau gak sih, perempuan itu udah cantik, gak perlu lagi pusing mempercantik diri.” Tanpa menunggu respon mereka, aku bergegas menuju perpustakaan kampus, tempat itu sudah menjadi medan magnet bagiku. Ada kesenangan tersendiri saat melihat deretan buku di rak-rak. Setiap membaca lembaran buku, seakan diriku ditarik memasuki dimensi lain. Atau barangkali ada sesuatu yang lebih daripada itu.

“Bye, aku ke perpus dulu yah.”

“Huft… Nina itu kutu buku banget! Awas yah nanti lu juga bakal berubah drastis saat mulai jatuh cinta!”

Aku hanya tersenyum mendengar umpatan sahabatku. Tak ada yang salah dengan sikap mereka. Hanya saja, aku belum terbiasa dan masih nyaman dengan zonaku saat ini. Jatuh cinta? Ah kata itu sebenarnya mengingatkanku pada seseorang yang jauh di sana. Para sahabatku salah mengira, bahwa aku tak pernah jatuh cinta. Justru, aku pernah mengecap rasa itu sekali, namun samar dan ditelan waktu. Mungkin juga, rasa itu yang mendorongku menyukai buku, menyimpan rasa rindu itu pada tiap-tiap lembarannya.

“Hei Nina, aku ada di kota sekarang. Kamu di mana?”

Deg!. Perasaan aneh sesaat setelah membaca pesan singkat itu menjalar di sekujur tubuhku. Mana mungkin aku bisa melupakan sosoknya tiga tahun yang lalu? Dan kini tanpa diduga-duga ia muncul begitu saja. Tak usah mencariku keparat!

“Aku tau kamu pasti marah, waktu itu aku pergi tanpa pamit. Kita harus bertemu sekarang, ini penting! temui aku di tempat biasa.”

Apa? Seenaknya saja dia membaca isi pikiranku. Emangnya dia pikir ini aku siapanya dia? Tapi sayang, sekeras logikaku menolak, tetap saja debaran aneh masih menjalar disekujur tubuhku. Ah sial, aku belum bisa melupakannya. Diam-diam, masih tersimpan rasa rindu yang belum kutitipkan sepenuhnya pada lembaran buku.

“Baiklah…” Keluhku menyesali telah mengiyakan ajakannya. Namun, aku begitu penasaran tentang kepergiannya yang secara tiba-tiba. Dialah sosok yang membuatku jatuh cinta pada buku. Dulu, saat mahasiswa baru, aku menyesal seribu kali telah menentukan pilihan memasuki jurusan Ekonomi, yang seharusnya aku memilih jurusan Antropologi. Belum lagi saat semuanya sudah menjadi bubur, aku merasa terasingkan di dalam keluargaku. Ayah dan Ibu tidak begitu peduli dengan pilihanku. Mereka juga tidak mau repot-repot mengurus ulang pendaftaranku. Bagi mereka, uang adalah priotitas utama. Mereka mengira aku cukup bahagia dengan semua fasilitas yang diberikan, tapi itu salah, salah besar. Tanpa kusadari, air mataku mengalir deras di sudut perpustakaan. Dan dia datang mengulurkan sapu tangan berwarna ungu.

“Menangislah sesuka hatimu selama ada sapu tangan ini. Kalau tidak, kamu bisa mendatangkan banjir di perpustakaan.” Katanya begitu percaya diri. Mustahil! kataku. Dia tersenyum.

“Gak percaya? Coba saja.” Dia meledek sambil menjulurkan lidahnya. Seperti anak TK, kekanak-kanakan. Anehnya, dia berhasil membuatku tertawa.

Begitulah kali pertama aku bertemu dengannya. Hubungan pertemanan yang dijalin begitu cepat. Selama satu jam menit dalam sehari di perpustakaan, kami menghabiskan waktu membahas apa saja tentang buku. Dia sangat menyukai isu-isu politik yang menurutku cukup membosankan. Tapi, aku sangat antusias ketika dia membahas tentang sejarah peradaban. Dia begitu meletup-letup saat menjelaskan sejarah perjalanan manusia dari zaman kuno hingga zaman modern.

Pertemanan yang begitu singkat. Hanya satu tahun mengenalnya hingga dia berhasil menyelesaikan kuliah, Dan dia pergi tanpa pamit. Saat kepergiannya, aku baru menyadari sesuatu yang aneh timbul begitu saja.

Hari bertemu kembali, di suatu tempat di mana senja bebas memandang setiap lengkungan pantai tak bernama

“Mengapa kau pergi hari itu?”

“Aku tau kau benci kata maaf, tapi kali ini biarkan aku mengucapkan kata ini. Maaf telah pergi hari itu tanpa pamit.”

“Tiga tahun tanpa kabar sekalipun? Teman macam apa kau ini!” Tak bisa kusembunyikan perasaan marah yang sudah bertahun-tahun kucoba untuk berdamai.

“Kau masih menyimpan sapu tangan berwarna ungu itu?”

“Tentu saja. Kalau tidak, air mataku bisa mendatangkan banjir.” Selalu saja begitu. Dia sangat misterius, penuh teka-teki. Anehnya, aku selalu percaya padanya. Entah mengapa.

“Hahaha… kau sangat lucu, masih percaya dengan ucapanku waktu itu. Nina, Ibuku sakit di kampung, dan aku harus pulang. Beruntungnya, aku bisa menyelesaikan kuliahku. Saat di kampung, Ibu menderita penyakit yang susah disembuhkan. Akhirnya aku merantau untuk mencari biaya pengobatan. Dan di sanalah aku bisa membiayai pengobatan ibu. Kau tau, selain bekerja di tanah rantau, aku melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran. Kau pasti heran, karena aku menyukai dunia politik. Tapi percayalah, hidup seseorang bisa saja berputar seratus delapan puluh derajat karena sesuatu dan lain hal.”

Aku tak percaya. Ternyata selama ini dia pergi dengan sebuah alasan.

“Syukurlah, aku pikir ada apa. Kau kan teman terbaikku, di saat masa terpuruk dalam hidupku, kau hadir sebagai teman yang baik. Dan karena itu, aku kembali menata pilihan masa depanku, mencoba berdamai dengan apa yang kujalani saat ini. Terlebih lagi, kau telah membuatku jatuh cinta pada buku.” Atau mungkin jatuh cinta kepadamu yang tanpa kau sadari.

By the way, seharusnya kan kamu masih belum selesai kuliah dikedokteran. Masih ada dua tahun lagi kan? Kenapa kamu ke sini?”

“Karena itulah aku ke sini. Ada hal yang belum kuselesaikan.”

Dia menatapku lebih lama dari sebelumnya. Saat ini juga, aku bisa merasakan detakan jantungku yang tak karuan berdetak lebih cepat. Perasaan yang coba kusembunyikan, muncul begitu saja. Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?

“Nina, kembalikan sapu tangan berwarna ungu itu.” Haaa hanya itu? Ah sial, aku terlalu ke-ge-er-an.

Diaa mengambil sapu tangan itu kemudian mencari-cari sesuatu di dalam tas hitamnya. Aku tak tau itu apa, namun sedetik kemudian ia menemukan sesuatu itu dan menutupnya dengan sapu tangan berwarna ungu.

“Ambillah ini.”

Dia meletakkan benda yang dibalut sapu tangan berwarna ungu itu di tanganku. Kini, benda itu ada dalam genggamanku. Dengan rasa penasaran, aku membuka benda yang berada dalam gulungan sapu tangan itu, dan… seketika aku terpaku.

“Cincin?”

“Untuk itulah aku menemuimu Nina. Maukah kau menua bersamaku menatap senja di pantai tak bernama ini?”

Hanya senyum dan air mata bahagia yang mampu menjadi jawaban dari ribuan kata-kata yang hendak keluar dari bibirku. Aku mengangguk pelan. Tahukah kau aku telah lama menantimu? menyimpan diam-diam perasaan itu setelah kepergianmu pada tiap lembaran buku-buku di perpustakaan tempat kita pertama kali bertemu.

*Sekian

_________

Mksr, 09 Okt 2018

Picture by pinterest

Nb: Terima saran dan kritik yah teman-teman, masih belajar berdamai dengan hati dan pena. Terima kasih sudah berkunjung 🙂

36 thoughts on “Sapu Tangan Berwarna Ungu

    1. Setau aku perbanyak baca buku-buku fiksi, terus kalau mba mau nulis cerpen misalnya, bisa menuliskan kisahnya terlebih dahulu. Untuk memudahkan penulisan, karena menulis cerita pribadi itu bagus untuk pemula. Gitu sih kalau aku mba 🙂 baru belajar juga 😊

  1. Ini ada kisah sebelumnya kah? Alangkah bagusnya kalo disisipkan konflik saat pertemuan, atau setelahnya. Jadi jangan mulus-mulus aja karena kesannya jadi boring.

    So far idenya bisa dikembangkan lebih detil. Ihh gaya banget sih aku ngasih masukan, maaf yaa

  2. Jangan mau di lamar kaya gituuu #Kompor

    Dulu teman2 ku jg bilang kalau punya cowok yg disukai kitanya akan berubah, sering ngaca, dandan, dll. Kalau bagiku sih sama aja. Aku coba dandan bkn krn org, tp lg belajar merawat dan menghargai diri sendiri

  3. Ya ampuuun, aku ikut deg-degan pas doi minta sapu tangan ungunya kembali.
    Beneran lho.
    Coba deh sini tanganmu, Ainy, “Tuh, beneran, kan, jantungku berdetak kencang!”
    Untung saja, happy ending euiii.
    Senyum lebar kepuasan pun menghias wajahku :).

  4. Mau juga donk diajak menua bersama hehe.
    Jd isi dalam sapu tangan itu ya yang maknanya dalam hehe.
    Suka sama cerita appy ending yk gini 😀

  5. Selama satu jam menit dalam sehari di perpustakaan <- mba itu kalimatnya apa ada kepotong kah. Hehehe aku suka baca cerpen nya.

  6. Ihiyyy romantisss…
    Tapi kenapa ya, mungkin aku tipe pembaca yg lebih suka ada konflik yg dalam, jadi gak mulus-mulus aja. Kurang greget gitu.
    Eh tapi ini subyektif banget sih.
    Lanjutkannn Mbakkkk 😊

  7. Menua yang tak sekadar dalam wujud berubahnya semua struktur organ tubuh tetapi juga “menua jiwa” sehingga ikut dewasa hingga akhir.

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!