Beranda Cerpenku

HELENA

163197726e5c6277789f2102c476671f201142869.jpg
“Di manakah sesuatu yang kucari?”

Hening… Riuh ombak di pinggir laut seakan tenggelam oleh keheningan yang menggema dalam pikiran Helena.

Tak ada lagi air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia membiarkan genangan air mata itu mengering, anginlah yang membelai lembut pipinya. Seolah berkata jangan menangis.

______

Suara tawa Helena memecah keheningan. Ia menertawakan hidupnya.

Dulu, Helena memiliki sahabat. Kehadiran sahabatnya mewarnai kehampaan hidupnya tanpa ibu dan ayah di sisi Helena. Masa remaja yang sangat labil. Namun, ia berani merangkai mimpi bersama sahabatnya, menaklukkan dunia! Itulah cita-cita yang diikrarkan bersama sahabatnya di bawah reruntuhan bangunan. Daun-daun, angin, burung-burung, rerumputan, menjadi saksi janji mereka. Bahwa kelak, sampai kapanpun, persahabatannya akan abadi.

Jauh dari lubuk hati Helena, ia tak bisa menyembunyikan lubang kerinduan yang semakin menganga. Ia rindu masakan ibunya, ia rindu senyum ayahnya. Tapi, Helena harus tabah. Terkadang hidup harus menjadi tuan guru untuk mengajarkan beragam hal kepada manusia.

Tahun demi tahun berlalu. Helena mengikuti sahabatnya. Di luar, ia tampak tegar, tapi di dalam, sesungguhnya ia sangat rapuh. Hanya sekali tiupan angin pelan, akan menghancurkan puing-puing mimpinya.

Dan benarlah, hari di mana persahabatannya koyak, jatuh jauh di dasar lautan, sekali lagi tuan guru kehidupan mengambil alih peranannya. Helena hanya mampu menatap dari jurang. Jarak yang terbentang dengan sahabatnya, menciptakan lubang baru di hatinya yang semakin menganga. Ia mencari teman hidup. Ah Helena, ia belum sadar juga setelah tuan guru mengajarinya.

Tak ada lagi sahabat sebagai tempat berbagi layaknya dulu. Helena yang malang, kini menemukan teman baru dalam hidupnya. Ia tak lagi sendiri. Seseorang yang ia biarkan masuk dalam kehidupannya, disangka mampu mengisi apa yang seharusnya ada untuknya, ia ingin merasa dimiliki. Kehilangan orangtua, telah membuat Helena mencari-cari penutup lubang yang menganga di hatinya.

Namun, siapa sangka. Lagi-lagi Helena hanya berada dalam dunia ilusi. Yang ia cari justru membakar dirinya, habis tak bersisa. Disangkanya ia menemukan seseorang yang bisa menutup lubang yang menganga dalam hatinya, malah menciptakan lubang yang baru. Lubang kehancuran. Ia telah kehilangan bagian dari yang paling berharga dalam hidupnya.

Hempasan ombak di laut tak dihiraukan Helena, ia tetap tertawa, semakin keras.

Kala semua teman-teman Helena mencapai kesuksesan termasuk sahabatnya, ia justru tertinggal jauh. Lagi-lagi tuan guru kehidupan mendekati Helena, tuan guru sangka bahwa Helena akan mengerti maksud pelajaran yang diberikan, tapi Helena belum memahaminya.

Lagi, seseorang mendekati Helena. Kali ini berbeda dengan sosok sebelumnya. Helena, yang rapuh hatinya, sekali lagi menerima sosok itu, dengan harapan, bahwa ia mampu menutup semua lubang di hati Helena.

Dan memang sosok itu mampu menutup satu lubang dalam hati Helena. Sebuah pencapaian yang membuat Helena sekali lagi tidak peka denga ajaran tuan guru. Helena larut dalam untaian kata sosok itu, yang meyakinkannya bahwa sosok itu berjanji akan menutupi semua lubang di hati Helena. Helena percaya padanya, membiarkannya masuk dalam hatinya secara bebas, Helena membiarkannya tinggal di dalam berlama-lama bahkan tanpa pengawasan Helena. Namun, tuan guru tak akan membiarkan Helena buta akan ilusinya sendiri, untuk kesekian kalinya,  Helena terjembab dalam ilusinya kembali.

Sosok itu bukan menutup lubang yang menganga di hati Helena, namun menggali lubang yang baru. Helena tercekat, seolah petir baru saja menyambarnya, ia kembali hancur, dan kali ini lebih berkeping-keping.

Suara ombak di pantai sekali lagi terdengar riuh, namun Helena tetap menertawakan dirinya dalam gema.

Lubang yang kian banyak di hati Helena telah membuat hatinya rusak. Ia membenci kehidupan yang dirasa tak adil untuknya. Ia menengadah ke langit, mencari-cari sesuatu. Ia mencari wajah Tuhan. Ia berteriak, disangkanya suara teriakan akan mengetuk pintu rumah Tuhan, ia tak tahu, bahwa dalam dirinya, Tuhan lebih dulu mendengar suara hatinya sendiri.

Tuhan… Dimana Kau? Aku hanya mencari sosok yang bisa menutup semua lubang di hati yang kian menganga, tapi mengapa diriku malah terluka?

Dalam isak tangisnya memandangi langit, Helena dikejutkan oleh sesuatu yang menyentuh pundaknya. Helena membalikkan badan, ia terpaku menatap sosok di hadapannya.

Akulah guru kehidupan yang selalu memantaumu di kejauhan.

Helena memandang sosok berjubah putih itu di hadapannya. Malaikatkah itu? Siapa kau? Mengapa kau di sini?

Tuan guru dengan lembut menuntun Helena duduk di bawah sebatang pohon tak berdaun.

Sesungguhnya, sahabat yang hadir dalam hidupmu, dikirim agar kau bisa menemani hidupnya yang sebentar lagi juga akan ditinggalkan ibunya. Namun, kau teramat cengeng. Keraguanmu mengambil keputusan telah membuatmu berharap penuh padanya. Kau berdalih dengan ketidakhadiran orangtua di sisimu, kau telah bergantung penuh padanya.

Kau keliru soal sosok pertama setelah sahabatmu. Kau sangka dia bisa menutup lubang kerinduan dalam dirimu, tapi kau belum paham juga. Kau malah semakin kehausan perhatian, lagi-lagi kau hanya mencari pelarian hidupmu. Dan lihatlah, itu hanya pintu gerbang untuk kekeliruanmu selanjutnya.

Sosok kedua yang hadir setelah sosok pertama, memang salah satu yang terbaik dikirim untukmu. Tapi lagi, kau keliru memandang seseorang yang hadir dalam hidupmu. Kau menukar semua lubang di hatimu agar bisa ditutupi olehnya dengan harga dirimu. Kau telah kehilangan. Kehilangan bagian dari dirimu. Cinta yang sesungguhnya.

Tuan guru kehidupan tersenyum lembut kepada Helena.

Helena dengarlah ini baik-baik. Jangan pernah mengijinkan seseorang masuk ke dalam hatimu hanya karena kau ingin agar sosok itu menutup lubang di hatimu, jangan kau mengira bahwa, sosok yang hadir dalam hidupmu hanya untuk menjadi pelarian hidupmu, hanya untuk menghapus derai air matamu. Tidak Helena. Jika itu yang kau pikirkan, kau hanya akan melukai dirimu sendiri. 

Gulungan ombak kini menghantam keras pinggir pantai. Airnya menyentuh kaki Helena.

Hening…

Helena berhenti tertawa. Suara tuan guru kehidupan masih menggema.

Ketidakberdayaanmu dan lubang yang menganga dalam hidupmu, hanya akan membuatmu tak berhenti mencari pelarian hidup. Mulailah dengan menutupnya dengan tanganmu sendiri. Mulailah menemukan Tuhan dalam dirimu sendiri. Kau hanya harus menerima hidupmu.

Helena meninggalkan pantai. Ia kembali pada dunianya. Suara ombak di pantai telah membuatnya memikirkan banyak hal. Ia heran mengapa bisa tertawa di tempat itu? Dalam keheningan yang membuatnya merinding, ia baru menyadari satu hal. Bahwa Helena tersesat di pantai Terlarang. Dengan langkah cepat, Helena bergegas memasuki mobilnya.

Helena melirik jari manis di tangan kirinya. Ia memikirkan sesuatu. Helena menancap gas mobilnya, meninggalkan pantai Terlarang.

Esok adalah hari pernikahannya. 

_____

20 Oktober 2018, Mksr

Picture by Pinterest

37 thoughts on “HELENA

  1. Aku selalu yakin mengapa seseorang itu harus menempuh jalan itu dalam hidupnya.
    Mungkin bukan sekarang Helena menyadari….
    Namun kelak, kala masanya telah tiba,
    dan ia benar-benar bisa berpikir dengan jernih hikayat apa yang didapat.

  2. Duh Helena.. Helena..
    Eh tidak hanya Helena, banyak orang yang melupakan bahwa sebenarnya yang manusia butuhkan hanya Tuhan, jangan bergantung pada manusia siapapun itu.
    Tapi sebelumnya, semoga pernikahannya lancar ya Helena, hihihi.
    Mbak Ainhy juga datang kan besok ke acaranya? 😀 😀

  3. Sekilas sebelum membaca secara paripurna, ini adalah tentang kolaborasi dengan bloger mba Helenamantra.
    HAHAHA, ternyata aku salah!

  4. Jangan terlalu berharap kepada orang lain untuk membahagiakan kita, ya. Karena kalau terlalu berharap bisa-bisa malah nelangsa. Hehe. Kuncinya ya bersyukur, menerima diri sendiri, bahagiakan diri sendiri 😊

  5. Wah, Helena persis kayak aku masih muda. Galauan. Hehehehe. Ayo Helena, lihat yang ada di sekitar, banyak banget hal yang bikin bahagia. Bener banget, bahagia itu kita yang ciptakan. Jangan bergantung pada manusia. :)))

  6. Kayaknya judul “HELENA” lagi booming banget ya untuk judul novel atau cerita pendek. Bener nggak sih? Soalnya aku sering banget lihat cerita judulnya “HELENA” tapi isi ceritanya beda-beda.

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!