Resensi Buku

Hujan

JUDUL: HUJAN
PENULIS: TERE LIYE
PENERBIT: GRAMEDIA PUSTAKA
ISBN: 978-602-03-2478-4
TEBAL: 320 PAGE
CETAKAN KE-20: AGUSTRUS 2016
MYRATE: 💓💓💓💓💓

 

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya…” Hal. 201
 
Nama gadis remaja itu, Lail. Hidup di masa depan dengan teknologi yang super canggih. Semua manusia bergantung pada teknologi. Namun, tak ada yang menyadari akibat dari keserakahan manusia hingga gempa berskala besar menghantam kota tempat tinggal Lail. Kejadian itu, di antara gerimis hujan, saat Lail harus kehilangan ibunya, ia bertemu dengan Esok. Seorang remaja yang juga kehilangan empat saudara laki-lakinya. Kemanakah takdir membawa kisah keduanya? Akanlah Lail membenci hujan?
💭💭💭
Hallo manteman, dah lama nih aku nggak update, sibuk bergulat dengan proposal soalnya hihi… doain yah semoga lancar dan lulus dengan nilai cumlaude kyaaa promosi. Update kali ini aku lagi pengin bahas kisah yang melow dan romantis. Yap buku Tere Liye yang satu ini nggak kalah serunya lho.
Awal baca buku ini aku udah baper abis, untung nggak ada yang liat hihi. Seperti biasa, Tere Liye selalu menyajikan kisah yang tak terduga-duga. Seperti kisah Lail, Tere Liye mengambil backround tempat yang unik. Saat baca buku ini, aku seperti nonton adegan film Divergent dimana teknologi sangat berperan besar dalam kehidupan manusia, semuanya serba canggih.
Aku jatuh cinta dengan semua tokoh di buku ini terutama Esok! Sama seperti Lail, Saat gempa datang, Esok yang harusnya ke sekolah bersama empat saudara dan ibunya, harus kehilangan. Meski ibu Esok masih bisa diselamatkan, namun kehilangan empat saudara sekaligus sangat menyakitkan. Keadaan semakin parah saat Esok berserta warga lain terjebak di dalam kapsul kereta bawah tanah. Namun, peristiwa ini menjadi awal kisah Lail dan Esok.
Tokoh lain yang nggak kalah menarik adalah Maryam. Sosok sahabat yang paling bisa diandalkan. Aku juga pengin banget kali punya sahabat kayak Maryam, selalu optimis dan paling gokil. Kehadiran Maryam di sisi Lail, akan sangat berarti di kemudian hari.
Sayangnya, kisah cinta tak selalu semanis madu, pertemuan Lail dan Esok harus berakhir karena sesuatu hal.
“Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu..” Hal. 228
 
Hal lain yang menarik dari kisah ini adalah organisasi relawan. Ini mengingatkanku saat masuk palang merah dulu. Seperti biasa, Tere Liye selalu menyampaikan pesan moral di setiap kisahnya. Sebagai relawan, kita harus selalu siap menghadapi situasi apapun. Termasuk aksi Maryam dan Lail sebelum tsunami menimpa desa dimana mereka bertugas. Baca bagian ini, betul-betul touching banget.
Plot-plot kisah dalam buku ini tersusun rapi, ada yang bisa aku tebak tapi paling banyak meleset hihi. Intinya, selalu ada suprise di buku ini. Apalagi saat Esok harus dihadapkan dengan dua pilihan. Dan Lail? apakah Lail akan melupakan hujan?
Ohiya, aku ngarep banget buku ini diangkat menjadi film. Kisah sekeren ini yang menurut aku nggak kalah kerennya ama film hollywood pantas diangkat ke layar lebar. Ini recomended aku yah.
One more, bagi sesama muslim, selamat menjalani bulan ramadhan yah. Insya Allah besok kita puasa bareng, nanam pahala bareng, semoga lancar ibadahnya. Amiin 🙂
So, selamat membaca 🙂
“Bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tapi, menerima….”
____
Nb: Tulisan ini merupakan pindahan di blog lamaku 🙂

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!