Beranda Puisiku

Bukan Fatimah dan Ali

Pernahkah melangkahkan kaki namun terasa begitu berat?

pernahkah waktu yang dilalui terasa lebih lama dari sebelumnya?

padahal, waktu tak berubah, tetap 24 jam dalam sehari

namun, sejak kumemutuskan “menunggu”, setiap detik terasa melambat hingga kumampu mendengar tiap detak jam di manapun kumelangkah

Dahulu kala, seorang pemuda enggan melangkahkan kakinya menuju rumah sang kekasih

Ia seperti halnya laki-laki pada umumnya, memiliki rasa khawatir dan cemas

khawatir jika ia tak mampu membahagiakan sang kekasih 

khawatir karena tak ada yang ia miliki selain pedang, baju besi dan untanya

sementara, sang kekasih adalah perempuan terhormat yang lahir dan tinggal di rumah wahyu

aduhai… ia pun merasakan beratnya kaki melangkah

Dahulu kala, ada seorang perempuan yang mencintai dalam diam

Seisi dunia tak tahu siapa pemuda yang ia cintai bahkan malaikat sekalipun

Ia mencintai dalam diam, hanya kepada Tuhan ia berbagi rahasia

Namun, sang kekasih tak kunjung melamarnya sedang sudah banyak lelaki meminta restu ayahnya

Lagi dan lagi, ia hanya berbagi rahasia kepada Tuhannya

apakah langkahnya juga terasa begitu berat? apakah air matanya juga jatuh karena rindu?

tak ada yang tahu, sebab hanya kepada Tuhan ia berbagi rahasia

Namun, dalam diamnya mencintai, ada ikhtiar dan keyakinan 

Ia menolak dengan lembut setiap lelaki yang datang melamarnya 

Matanyalah yang berbicara manakala sang ayah meminta pendapatnya

duhai cinta… bahkan ia pun menanti sang kekasih

Sang pemuda tahu kekurangannya, sang pemuda tahu, jika khawatirnya telah membuat sang kekasih menunggu…

Sudah cukup sang kekasih menunggu, sudah cukup kekhawatiran memberatkan langkahnya

Ia melangkah menuju rumah sang kekasih, tiap langkahnya merobohkan bisikan materi, tiap langkahnya adalah tekad dan keyakinan

Hari bahagia itu tiba, yang di langit dan di bumi bersenandung bahagia, mengucap syukur tak hentinya

dua manusia kekasih Tuhan telah menyatu

Ia adalah Fatimah dan Ali…

….

Aku menatap langit saat senja tiba. Menengadahkan pandanganku jauh di atas sana. Sebutir air hangat mengalir di pipiku. Aku bergumam dalam hati, berbagi rahasia pada Pencipta langit.

KITA bukanlah Fatimah dan Ali. Namun, kuharap bisa seperti Fatimah yang tetap mencintai dalam diam, menunggu dalam ikhtiar penuh harap dan sabar. Dan kuharap, kau seperti Ali yang punya tekad dan keberanian.

Tak kubiarkan butiran air hangat berikutnya jatuh di pipiku. Rasanya waktu lebih melambat tanpa melukis senyum di wajah.

Sumber: Bincangsyariah.com

____

27 thoughts on “Bukan Fatimah dan Ali

  1. “Fatimah yang tetap mencintai dalam diam, menunggu dalam ikhtiar penuh harap dan sabar”, MasyaAlloh Fatimah wanita yang sholehah ya mom, saya pun berharap bisa menjadi seperti beliau.

  2. Aamin. Semoga Ainhy bisa kayak Fatima ya. Menunggu dengan sabar dia yang sudah dipersiapkan Allah. tetap berdoa dan memantaskan diri untuk dia yang akan segera tiba 😀

  3. Fatimah dan Ali kisah cinta yang indah.
    Eh tapi kalau gak salah perempuan juga boleh menyatakan duluan, tentu saja bisa lewat wali atau yg dipercaya utk menyampaikan. Bukankah Bunda Khadijah juga kalau gak salah melamar Nabi duluan ya?

  4. Aku selalu teharu tiap inget kisah cintanya Fatimah dan Ali. Saling mencintai dalam diam itu terkadang menjadi salah satu pertunjukan cinta terbaik ya…

  5. demikian dalam berumahtangga, meski tak sempurna seperti Baginda Nabi dan Khadijah, semoga para pejuang rumah tangga dapat menghidupkan sunnah Rasul dalam perjalanannya, dan saling melengkapi hingga terwujud sakinah mawaddah warrahmah, aamiin… (tumben pinter ngomongnya :D)

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!