Beranda Cerpenku

Aku, Ayah dan Nasi Goreng

Benarkah jika anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya, sementara anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya? Jika iya, kita sama.

Aku lebih dekat dengan ayahku, tentu saja dekat dengan ibuku juga. Hanya saja, aku memiliki saudara laki-laki yang umurnya hanya berbeda empat tahun. Seiring berjalannya waktu, adikku lebih dekat dengan ibu, dan aku lebih dekat dengan ayah.

Aku pun mewarisi sebagian besar sifat-sifat ayah. Ayah yang pendiam, tak banyak berencana, dan selalu punya kejutan. Tapi, ayah juga bisa tempramen, namun lebih sering menjadi pendamai kala aku dan adik bertengkar apalagi jika sudah melibatkan ibu.

Ayah yang paling dicintai anaknya adalah ayah yang bertanggung jawab. Tak peduli seberapa besar persoalan menghimpit keluarga, namun ayah tak pernah meninggalkan kami. Hanya satu yang tak kusukai dari ayah, beliau paling susah memaafkan.

Amarah yang dipendam, membuatnya meninggalkan rumah dan kampung halaman. Tidak meninggalkan keluarga, ayah tetaplah ayah yang bertanggung jawab. Hanya saja, ayah belum bisa berdamai dengan amarah di dalam dirinya.

Entah apa yang beliau pikirkan, aku belum tahu persis persoalan orang dewasa sekalipun usiaku sudah beranjak dewasa. Kuharap, suatu hari ayah pulang, melupakan semua kekecewaan dalam hatinya, dan memeluk masa lalu penuh kedamaian, seperti dulu, ketika ayah mencoba mengakurkan kami bertiga dengan cara-caranya yang unik, termasuk membuat nasi goreng.

Kala itu, hujan mengguyur desa kami. Para petani mengangkat cangkul di kebun, bergegas pulang ke rumah. Begitu pula dengan ayahku. Kudapati beliau basah kuyup namun, menengadahkan senyum manisnya, dan berkata, “ibumu mana nak?”.

Aku yang masih kecil, hanya bisa membalas senyumnya dengan berwajah masam. Aku baru saja bertengkar dengan adik, hingga membuat ibu marah. Karena ibu sedang marah, ibu enggan menyiapkan makanan.

Melihat situasi yang cukup tegang tersebut, ayah bergegas ke dapur. Dengan langkah pelan-pelan, kudekati ayah yang sudah memanaskan tungku api. Asal kau tahu saja sobat, dulu di desa kami, memakai tungku api masih sangat ngetren.

Rupanya ibu melihat ayah di dapur, beliau hanya tersenyum. Aneh pikirku saat itu, padahal sebelum ayah pulang, ibu memarah-marahi kami.Β  Tapi, begitulah ibu, semarah apapun beliau, cepat sekali cair suasana hatinya. Berbeda dengan ayah, sekali marah kau tak akan pernah menebak kapan kembali baik suasana hatinya. Beliau tak akan pernah memerahai siapapun ketika sedang emosi, namun hanya diam seribu bahasa dengan tatapannya yang enggg… jauh lebih serem.

Harum sekali nasi goreng bikinan ayah. Hanya dicampur bawang, kacang dan beberapa pelengkap lainnya. Aku sempat protes ketika ayah hendak menuangkan nasi di atas wajan, pasalnya, minyak di dalam wajan tersebut takarannya lebih banyak. Tentu saja, waktu itu aku sudah tahu takaran membuat nasi goreng, hampir setiap pagi ibu membuat nasi goreng.

Tapi, ayah tak menghiraukan protesku. Beliau tetap saja melanjutkan membuat nasi goreng, seolah sudah mahir memasak seperti chef Juna yang terlihat cool, jadi deh nasi goreng bikinan ayah.

Kau pengen tahu kenapa nasi goreng buatan ayah harum? itu karena beliau memakai minyak kelapa bikinan sendiri.

Ternyata, suapan pertama membuat mataku terbelalak. Rasanya sangat enaaakk, tak bermaksud berlebihan sobat. Memang nasi goreng bikinan ayah waktu itu sangat enak.

Hanya hari itu, pertama dan terakhir beliau membuat nasi goreng.

Jika aku pergi ke warung-warung atau ke restoran, kebanyakan yang kupesan pasti nasi goreng. Bukan karena betul-betul menyukai makanan ini, aku hanyaΒ  merindukan sosoknya.

Mungkin, melalui suapan demi suapan nasi goreng di manapun aku makan, akan mengobati rasa rinduku yang semakin menderu.

Terima kasih Ayah, pulanglah… I miss you…

Credit Picture: Pinterest

___

Ingin juga mengecap rasa melalui cerita kuliner lainnya?

Baca di sini:

Pizza Buatan Pica di blog kak Ery

Lopis Jajanan Masa Kecilku di blog kak Icha

___

Disclaimer: Cerita Aku, Ayah dan Nasi Goreng merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata.

44 thoughts on “Aku, Ayah dan Nasi Goreng

  1. Aiih..saya jadi ikutan melow keingat bapak saya. Ceritanya menarik, mbak. Bapak saya itu malah saking perhatiannya. Tahun kmaren saya ada kegiatan jadi finalis lomba di Jakarta. Eh, beliau ngotot mengantar… karena tahu saya jarang kemana-mana, kudet dan tidak pernah naik pesawat. haha..

  2. what a heart-touching story! I can say nothing… Speechless. Menceritakan ttg ortu selalu membuat saya jg merasa campuraduk. Ya apapun itu,, kita semua harus tetap semangat & membahagiakan ortu semampu kita. Aamiin..

  3. Terkadang kita mencari makanan atau tiba-tiba merindukan sebuah makanan bukan karena rasanya tapi karena ingatan di dalamnya.
    Btw, saya hampir mengira ini kisah tentang ayahmu. πŸ˜€

  4. Cerita nasi goreng dengan bingkai kenangan dengan ayah. Syahdu sekali. membuat saya juga teringat kenangan-kenangan yang saya lalui bersama ayah di masa kecil dulu

  5. Jadi rindu alm. bapak. Bapak saya punya cara unik saat beliau ingin saya pulang kampung. Beliau mengiming-imingi saya dengan makanan kesukaan saya, terutama kepiting. Kalau sudah begitu, saya harus pulang.

  6. Kisah tentang ayah yang telah terkoneksi dengan suapan nasi goreng, ternyata dalam suatu suapan nasi goreng bisa menjadi moment emotional yang sangat menyentuh.

  7. Katanya cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Seiring berjalan waktu dia akan mencari sosok pria yang seperti ayahnya.

    Katanya sih begitu.

    Apalagi kalau si ayah selalu menyimpan kenangan manis seperti nasi goreng yang disajikannya.

  8. Narasi yang menarik. . Pas mau sampai paragraph terakhir so sad bacanya. .kiraian kisah hidupnya mi ini.. Setelah baca disclaimer ternyata fiksi..tapi diangkat dari nyata. .Kisah nyata siapa yah ini, .. πŸ™

  9. Kok sedih ya bacanya :’)
    Ayah kmu hampir mirip dengan ayah sya Ainhy. Atau mungkinkah tiap ayah mmng klo marah kbanyakan seperti itu?

    Iya. Smoga ayah cpat pulang. Sya byangin nasi gorengnya siang2 begini jdi ikutan lapar πŸ™

  10. Selalu ada kenangan tentang ayah maupun ibu dan uniknya kadang kenangan itu berhubungan dengan makanan. Jadi bisa dibilang makanan dan kenangan saling bergandengan.

  11. Jadi salah satu kenangan yang terindah ya mom, koq jadi sedih kalau ingat sosok Ayah, pasti dirimu sangat merindukannya. Ayah saya sudah almarhum, rindu sangat ingin memeluknya.

  12. Saya dulu memilih dekat dengan bapak karena ibu galak hehehe.. Tapi setelah lulus sekolah hingga sekarang, saya pun bisa dekat dengan ibu. Jadinya sekarang dekat pada keduanya πŸ™‚ Tapi memang memori masa kecil masih terekam jelas tentang bapak yang tidak pernah marah dan serba bisa untuk kami anak-anaknya.

  13. baca ceritanya seru deh, sambil memvisualisasikan suasana disana, pakai tungku dan [etani bawa cangkul. jadi rindu masa kecil ku dulu mba.

  14. Anakku juga anak cwe walau usianya masih 1taun dia jg bisa ngomong lancar kalau manggil ayah…kayaknya anak cwe emang lebih deket ama ayah…

  15. Ini kisah nyata atau fiksi, Mba? Kisahnya mengharu biru. Kalau nyata emang bapak kemana? Maaf kepo. Kalau cuma fikri, Mba sukses membuat cerita yg mengajak suasana hati pembaca ^_^

  16. Anak2ku alhamdulillah semua dekat dengan ayahnya, baik yang cowok dan yang cewek mbak. Suamiku termasuk yg suka bikinin nasgor jg hehe. Bahkan lbh enak bikinannya drpd bikinanku πŸ˜€

  17. Terharuuu aku mbaa, soalnya si kecil lebih dekat sama bapaknya, dan aku pun jadi cemburu xixiixi. Ternyata bonding antara ayah dan anak harus dibangun sejak kecil ya mba, apalagi untuk anak perempuan, karena bagi mereka ayah adalah cinta pertama mereka. Hiks, jadi nangis beneran kan aku tuhhh

  18. Aku lebih mirip mukanya sama papam, tapi lebih dekat dengan mama karena dulu tinggalnya sama mama. hehe. Btw iya kadang kalo kangen sama orang itu kangen juga sama masakannya yaa… Masakan tertentu biasanya meingkatkan suatu memori atau juga seseorang yang lekat dengan kita

  19. Wah aku koq sedih baca ceritanya yah mba?jd mba sampe skrg tuh terpisah sama ayahnya trus gk prnh ketemu gitu?anak2ku sih 3_3nya lakik semua tp mereka semua paling deket sama papanya,papanya pulang kerja malem aja ditungguin nanya bolak balik kpn plg,apalgi pas papanya Dines waduh pagi siang sore malem ribut nyuruh mamanya telpon papanya

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!