Aktivitasku Beranda

Hadiri Forum Diskusi Sore: “Pematerinya Orang Ahmadiyah, Nggak Takut?”

Selain mengikuti event-event yang berkaitan dengan hobby seperti membuat bullet journal, blogging dan expo pendidikan, saya juga  sesekali mengikuti forum diskusi khususnya yang membahas agama dan filsafat.

Bukan karena expert di bidang itu, malah saya merasa pengetahuan saya nggak ada apa-apanya. Nggak ingin terjebak degan isu-isu di sosial media yang berseliweran tentang agama, saya merasa perlu mengikuti forum diskusi.

Salah satu forum diskusi yang biasa saya ikuti adalah  forum diskusi RKF (Rumah Kajian Filsafat). Forum ini mempertemukan pelajar-pelajar di Makassar dari berbagai ideologi dan mendiskusikan beragam topik. Forum ini bertujuan untuk mengajak teman-teman pelajar melihat sudut pandang dan perspektif yang berbeda-beda. Tujuan utama lainnya bagaimana kita membuka sikap toleransi terhadap pahaman yang berbeda-beda. Dan karena alasan itulah, saya tertarik mengikuti forum diskusi ini. Walau saya lebih banyak menyimak karena, saya merasa kapasitas pengetahuan saya belum memadai.

Pada tanggal 07 Februari 2019, forum diskusi ini berlangsung sekitar pukul 04.00 pm. Saya menamainya diskusi Sore karena memang kegiatan ini sering dilaksanakan pada sore hari, mengingat banyak pelajar/mahasiswa yang lebih banyak memiliki jadwal kuliah di kampus pada siang hari. Nggak semua mahasiswa sih sebenarnya, forum ini terbuka untuk umum.

Ada yang berbeda dengan diskusi kali ini. Pematerinya merupakan muballigh Ahmadiyah. Bagi saya pribadi, ini pertama kalinya berinteraksi langsung dengan orang Ahmadiyah. Pun, baru pertama kalinya menghadiri forum diskusi yang pematerinya dari Ahmadiyah.

Sudah pada tahu kan, desas-desus mengenai Ahmadiyah? sudah sejak lama pemberitaan tentang Ahmadiyah begitu gencar. Dan, sampai sekarang citra Ahmadiyah di masyarakat sebagian besar masih dianggap aliran yang menyimpang.

Saya nggak begitu menelusuri Ahmadiyah kala hangat diperbincangkan. Hanya mengonsumsi pemberitaan media yang memang rata-rata mengabarkan bahwa aliran ini menyimpang. Jika saya tanyakan kepada teman-teman, hanya ada dua jawaban yang saya dapatkan. Tidak tahu atau menyatakan bahwa Ahmadiyah itu sesat.

Benarkah demikian? pertanyaan itu terpendam begitu saja. Hingga, saya mendapat ajakan dari teman untuk mengikuti forum diskusi yang pematerinya adalah orang Ahmadiyah.

Topik diskusi kali ini adalah Perdamaian dan Kerukunan Antar Agama.

Peserta forum diskusi kali ini lebih banyak dibandingkan hari sebelumnya. Saya pun mengajak seorang teman untuk bergabung.

Dan, forum diskusi pun dimulai.

Pemateri menyapa peserta diskusi sangat ramah. Tanpa lama berbasa basi, beliau membuka presentasinya menggunakan proyektor. Dan slide presentasi pun muncul.

Sekitar tiga puluh menit, beliau memaparkan topik perdamaian antar agama. Sepanjang pemaparan pemateri, kening saya berkerut. Apa ini orang Ahmadiyah? kok label penyimpangan kebanyakan orang sama sekali nggak ada dalam penjelasan beliau. Malah, saya terkesima dengan dalil-dalil alqur’an dan hadis yang beliau paparkan tentang perdamaian.

Berikut ini ringkasan topik perdamaian antar agama yang bisa saya tuliskan.

Kondisi saat ini yang berkaitan dengan agama disadari atau tidak, dalam beberapa segi kehidupan pengaruh agama menjadi kuat. Akidah-akidah ekstrem diterima dan kekerasan dalam agama menjadi hal yang biasa. Terlebih pada kurangnya rasa saling menghormati antar umat beragama (toleransi), serta media massa yang awalnya diharapkan menjadi media yang bebas ternyata tidak seperti yang diharapkan, karena kenyataannya ikut bermain dalam situasi saat ini.

Seolah kebenaran dimonopoli oleh pihak tertentu dan menjadikan kekerasan sebagai pembenaran terhadap pihak yang tidak sejalan.

Padahal alquran mengemukakan dalam surah an-Nahl: 36 “Dan sesungguhnya Kami mengutus dalam setiap umat seorang rasul, supaya kamu menyembah Allah swt. dan jauhilah orang yang melampaui batas”. Dan juga dalam surah al-Mu’minun: 78 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau, dari antara mereka ada sebagian yang Kami ceriterakan kepada engkau, dan dari antara mereka ada sebagian yang tidak Kami ceriterakan kepada engkau.” Serta dalam surah al-Maidah:69 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi, dan orang-orang Sabi, dan orang-orang Nasrani – barangsiapa di antara mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal saleh, maka tak akan ada ketakutan menimpa menimpa mereka tentang yang akan datang dan tidak pula mereka berdukacita tentang yang sudah-sudah. 

Dari ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Islam tidak memonopoli kebenaran serta tidak menafikan agama-agama lainnya.

Dari penjelasan beliau, di sini saya berpikir bahwa, jika saja Islam tidak memonopoli kebenaran terhadap agama-agama lainnya, lalu mengapa dalam kubu Islam itu sendiri ada kelompok yang dengan mudahnya ‘mengkafirkan’ sesamanya? dengan mudahnya menyesatkan aliran tertentu, tak jarang memakai kekerasan. Jika Islam sebegitu tolerirnya, mengapa ada kelompok tertentu yang langsung marah dan tak jarang menggunakan kekerasan terhadap yang berbeda keyakinan? mengapa tak mengajaknya berdamai, mengajaknya berdiskusi dan memberikan pahaman?

Ada satu kisah yang beliau sampaikan di masa Rasulullah saw, di mana seorang sahabat yang bertemu dengan pengikut nabi Yunus. Mereka terlibat dalam sebuah perdebatan tentang nabi siapakah yang paling mulia. Lantas, sahabat tersebut mengatakan bahwa nabinyalah yang paling mulia. Ketika bertemu nabi Muhammad saw, sahabat tersebut mengadu. Apa yang nabi Muhammad katakan setelah mendengar peristiwa tersebut?

“Jangan mengatakan aku lebih baik daripada Yunus bin Mattah” (HR. Bukhari)

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah saw mengajarkan kesantunan kepada para muslimin. Mereka dilarang untuk memperdebatkan status beliau dengan cara menyakiti hati orang lain.

By the way, point utama yang saya dapatkan dari diskusi kali ini adalah kerendah-hatian sangat diperlukan dalam menolerir perbedaan yang ada di luar pahaman.

Dari forum diskusi ini, setidaknya saya bisa mengetahui beberapa pandangan-pandangan dari Ahmadiyah dan fakta bahwa 70% kebanyakan yang diketahui banyak orang tentang Ahmadiyah adalah fitnah.

Baca juga: Ngobrol Publik Makassar with Semua Guru Semua Murid

Forum Diskusi Sore: Pematerinya Orang Ahmadiyah Nggak Takut? "
Suasana di Forum Diskusi Sore

Ada beberapa pertanyaan peserta kepada pemateri yang sebenarnya keluar dari topik, mungkin karena mereka sama dengan saya yang juga penasaran dengan Ahmadiyah.

Peserta: Kalau Ahmadiyah itu sholatnya bagaimana?

Pemateri: Sebelum menjawab, saya ingin mengklarifikasi bahwa syahadat kami sama dengan syahadat Islam mainstream, sama dengan syahadatnya teman-teman. (Beliau mengucap syahadat di hadapan kami), apa yang diberitakan bahwa syahadat kami berbeda itu salah. Shalat kami juga sama dengan sholat Islam mainstream. Rukun shalat kami sama, nggak ada bedanya begitupun dengan waktunya.

Peserta: Katanya pendiri Ahmadiyah, yaitu Mirza Ghulam Ahmad dikatakan oleh pengikutnya bahwa dia adalah nabi? pengganti nabi Muhammad? padahal jelas-jelas bahwa tak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad.

Pemateri: Saya menjawabnya dengan mengikutip ucapan Mirza Ghulam Ahmad, “Bagaimana mungkin ada yang mengatakan saya nabi, sementara saya merasa, debu yang menempel di telapak Rasulullah tidak lebih mulia daripada saya”. 

(Seketika saya bergidik, merasakan haru yang entah… merasa bersalah pernah ikut berprasangka yang tidak-tidak)

Dan begitulah beberapa pertanyaan yang dilontarkan teman-teman peserta kepada pemateri yang sebenarnya pertanyaan tersebut cukup sensitif dan keluar dari topik diskusi, namun beliau dengan tenang menjawab semua pertanyaan kami.

Akhirnya diskusi pun selesai. Saya dapat memetik beberapa pelajaran bermanfaat akan sikap toleransi terhadap sesama. Dan di sinilah saya merasakan keindahan Islam itu sendiri manakala kerendah-hatian diutamakan.

Setelah pulang, saya lantas nggak berhenti mencari tahu tentang Ahmadiyah di internet. Dan memang saat mencarinya di google, lebih banyak yang memberitakannya secara sepihak dengan memberikan pencitraan yang buruk, ada juga berita yang saya baca bahwa mereka banyak yang mengalami kekerasan, pengusiran dan pengucilan. Dalam hati saya merasa miris, kok tega yah ada beberapa orang yang melepaskan sisi kemanusiaannya dengan tidak memanusiakan manusia lainnya hanya karena ‘berbeda aliran’.

Jika sobat penasaran dengan Ahmadiyah, saya menemukan dua artikel yang memang sejalan dengan fakta yang saya temukan saat mengikuti forum diskusi bisa di klik di sini dan di sini.

Bagimana dengan kamu sobat, pernahkah mengikuti forum diskusi dengan tema yang sama? atau mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang berbeda paham/keyakinan denganmu. Bagaimana respond sobat terhadap orang tersebut? share di kolom komentar yah 🙂

53 thoughts on “Hadiri Forum Diskusi Sore: “Pematerinya Orang Ahmadiyah, Nggak Takut?”

  1. Mpo tidak pernah ikutan diskusi ahmaddiyah . mpo palingan ke taklim terbuka di monas.

    Mpo milih yang di ajarin nabi dan ustad aja soalnya banyak aliran kepercayaan. Takut sesat . nyari yang aman aja

  2. Sebenarnya pengajian apapun itu kan yang penting respon dari dalam diri kita. Kalau aku cenderung bisa ngaji di mana saja, karena aku juga sambil belajar.
    Agama kita kan fiqinya saja bermacam-macam, mungkin dengan belajar kita makin bijak mensikapi perbedaan

  3. Memang butuh perluasan wawasan. Juga butuh menguatkan diri. Apa-apa yang muncul di permukaan biasanya memang yang mudah diterima oleh banyak orang. Di samping itu, kita juga perlu berhati-hati dan menjaga akidah kita. Yang jelas, bagi Islam, tidak baik memusuhi yang berbeda keyakinan karena bagi kita, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” Dalam berkehidupan, kita tetap berdampingan dan saling menghargai satu sama lain.

  4. Menarik sebenarnya forum seperti ini. Bisa memperluas wawasan dan memberi perspektif baru. Jangankan diskusi dengan yang beda agama, diskusi dengan yang tidak beragama pun saya mau.

    Asal, bahan kita juga kuat. Setidaknya keyakinan kita tidak mudah goyah.

  5. saya super hati2 kalau ikut beginian karena sadar diri kalau landasan agamaku belum kuat bgt. udah pernah liat teman yg akhirnya terpengaruhi dgn aliran islam sampe rela mencuri dsbnya demi alirannya krn katanya itu halal

  6. ketakutan pada Ahmadiyah, atau lainnya, memang tidak perlu. yang perlu kita takutkan sebenarnya adalah perasaan benar sendiri. ini yang berbahaya.

  7. Aku sendiri sih jujur belum berani ikut forum forum kaya gini kak, paling banter kalau pengen ngaji ya emang ngaji sama ustadz dideketin rumah atau ikut tabligh Akbar yang biasa diadain di masjid Deket rumah aja

  8. Diskusi soal keyakinan seperti ini akan menarik kalau pematerinya seperti ini, yang saya tahu jangankan Ahmadiyah, orang yg berbeda agama atau tidak beragama pun adalah saudara dalam kemanusiaan. Soal keyakinan lebih baik banyak memeriksa diri sendiri kalau menurut saya 🙏☺️ thanks for share

  9. Saya malah mengira Ahmadiyah udah nggak ada tapi ternyata pengikutnya masih ada toh. Sebenarnya bukan dengan mudah mengkafirkan ya tapi kalau jelas2 aliran itu bertentangan denganAl-Qur’an dan As-sunnah, apalagi sampai mengaku Nabi, ya tidak perlu ditanyakan lagi kesesatannya. Bahkan bagi muslim yg meninggalkan shalat lima waktunya juga bisa dianggap kafir lho dan itu jelas dalilnya.

    1. Saya sudah bagi dua link sebagai referensi di paragraf terakhir, mohon di cek dan dikaji lbh dlm, itu yg bsa saya verifikasi terkait ap yg sy dptkan faktanya saat mengikuti kajian langsng dr orgnya. Setau saya, kafir itu luas artinya. Ada baiknya kita duduk bareng mengajak mereka yang dianggap ‘kafir’, tanpa harus menjudge dan memonopoli kebenaran.

  10. Kalau mau ikutan diskusi seperti ini sebaiknya kita sudah punya landasan ilmu agama yang cukup, pun kalau tidak kita punya guru/imam yang bisa kita jadikan tempat untuk bertanya benar atau tidaknya. Sekedar diskusi ringan aja sih boleh, tapi kalau topiknya berat aku siih mundur teratur.

  11. Saya tidak pernah ikut forum seperti ini, tapi seandainya berminat ikut forum ini harus punya mental yang kuat. Topiknya menarik dan sangat cocok untuk kondisi sekarang

  12. Aku belum pernah menghadiri kegiatan seperti ini mba.. beda pemahaman sering banget terjadi, tapi sebagai warga negara yang paham ada pentingnya toleransi.. maka jadikan perbedaan pemahaman sebagai bagian dari keberagaman dalam bernegara.. InshaAllah berbeda itu indah jika kita menyikapinya dengan baik

  13. Jujur, saya nda terlalu paham tentang Ahmadiyah. Makanya saya juga berusaha ndak terlalu komentar atau ikut berprasangka. Satu yang saya tahu, Islam itu agama penuh damai.

  14. Aku gak masalah kalau diskusi tentang ilmu walau pematerinya beda keyakinan dengan kita. Tapi kalau bahas aqidah dan keyakinan, beda lagi urusannya. Kalau ikut ya kudu nguatin iman

  15. Saya belum pernah ikuti diskusi ilmiyah kalau pematerinya orang dari Ahamadiyah..Lakumdinukum waliyadi..Cukup saya yakini ajha yang ada dalam Al-Quran dan As-sunnah Rasullulah S.A.W. kalau menyimpang dari situ aku No..

  16. Saya tidak pernah ikut kegiatan seperti ini dan sepertinya tidak akan tertarik untuk ikutan. Soal agama dan keyakinan, bagi saya adalah soal manusia dengan Tuhannya. Tidak seorang pun yang berhak menilai soal itu. Makanya saya tidak pernah mencari tahu tentang keyakinan seseorang. Selama kita tidak saling melanggar batasan masing-masing, ya kita temenan.

  17. No coment aja ya, diskusi seperti ini ga bisa cuman sekali pertemuan. Kalo saling bermuamalah sih oke kalo menurut saya tapi kalo mendalami pemahaman aliran kepercayaan lain ga dulu deh. Ta benerin islam saya sendiri dulu aja. Salatnya kadang ga tepat waktu nih sayanya

  18. Aaku membaca tulisan mba Ainhy dengan sangat pelan dan hati2. Karena ini menyangkut paham Ahmadiyah yang terdengung sesat dan menyimpang. Tapi ternyata tidak ditemukannya spt apa yang selama ini didengungkan oleh masyarakat ya mbak

  19. Adanya berbagai macam varian pendapat mungkin saja muncul dalam suatu aliran keyakinan. Termasuk dalam tubuh ahmadiyah. Mungkin selanjutnya perlu ditanyakan terlebih dulu ya hal2 vital dalam agama secara personal. Jika memang tidak ada yg menyelisihi berarti ya masih muslim 😊

  20. Mba ainhy rajin ya ikutan ini itu. Jadi asal mula ahmadiyah ni dr apa ya? Kan klo pergerakan lain ada asal mula berdirinya. Saya jadi tertarik nih buat nyari tau. Perihal dibilang sesatnya sempat kluar fatwa mui bukan ya kl ga salah

    1. di tulisan terakhir saya backlink dua artikel kok, bisa dibaca sebagai referensi. Iyah betul saya baca beritanya di bcc, tp beberapa tahun kemudian diklarifikasi dri penelitian yg ad di artikel tersebut.

  21. Wah, saya tidak berani berkomentar lebih panjang ya terhadap artikel seperti ini. Karena pembandingnya juga harus yang expert di bidang keagamaan, mengetahui sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Jadi tidak mengupas dari salah satu pihak saja. Apalah saya yang awam ini, tak begitu paham :)) Yang penting kita semua hidup damai lah ya meskipun banyak perbedaan di antara kita, bahkan perbedaan di antara sesama muslim sekalipun.

  22. Afwan Aini kalau saya salah…

    Namun ada baiknya kamu ikuti kata hatimu, bukan karena penasaran.
    Karena

    “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda …. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.

    ’Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”

    Artinya,
    Hanya yang mengikuti ahlussunnah wal jamaah lah yang bisa masuk syurga.

    Hati-hati dengan permainan logikanya, Aini.
    Karena kalau ayat Al-Qur’an itu perlunya di tafakkur, bukan dipikir benar atau salah menggunakan logika.

    Afwan…

    1. al-jamaah itu luas maknanya kak. Kalau Ahluls sunnah wajamaah sependek pengetahuan saya juga klaim dari yang mengikuti gerakan ini, memang didasarkan pada sunah nabi, namun kita ini generasi kesekian yg pasti sudah banyak mengalami rekonstruksi. yg ingin sy sampaikan, baik ahlusunnah maupun aliran lainnya, semua berdasar pada alquran dan hadis yang penafsirannya beda-beda. Bukankah di dlm alquran juga kita dituntut untuk ‘berpikir’, bukankah ini pertanda bahwa Tuhan menyurh kita untuk membuka pandangan terhadap sudut pandang yang lain. Dan berdasarkan hadis di atas mengenai 72 golongan, ini penafsirannya banyak. Tentu, bagi saya nggak ada yang objektif menafsirkan, karena semua golongan mengklaim golongannya sendiri yg paling benar. Sebaiknya, duduk sambil ngopi bareng bahas ini lbh enak deh, ketimbang berprasangka dahulu kpd sesama saudara semanusia kita sendiri.

  23. Saya belum pernah ikut diskusi yang diasakan oleh Ahmadiyah, tapi kalo misal ada kesempatan saya juga mau ikutan. Gak ada salahnya kan mendengarkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita tahu/dengar?

  24. Saya tahu ada banyak kajian2 tapi saya enggak terlalu mempermasalahkan sih, selama dia tdk berbuat kejahatan. Krn pd dasarnya agama senantiasa mengajarkan kedamaian. Paling kalau ketemu org Ahmadiytah ya saya anggap org Islam kyk kita2 jg.

  25. Tergantung presepsi Kita sih mba,, kalau aku ikt kajian Selama itu tidak menyimpang dari AlQurdan dan Hadist aku ikuti.. tapi klo dah menyimpang mendekatpun saya gk mau aplg ikut kajiannya😔

  26. Mendengar ilmu dari mana saja itu bagus. Tapi harus bagus juga mental dan kemampuan untuk tidak mudah goyah akan sesuatu yang baru kita pahami. Perlu ditelaah. Bukan ditelan mentah mentah.

  27. Jujur mba, aku nggak pernah ikutan forum diskusi yang pematerinya dari ahmadiyah, syiah, ataupun lainnya (yg dikatakan menyimpang)
    Jadi sebenernya kurang paham juga. Tapi yang jelas, apapun alirannyA Perdamaian itu yg utama yaa

  28. Ketika kita hadir di arena mereka dipastikan hanya kebaikan yg mereka tampilkan dengan berbagai pengaruh yg memberdaya kita kaum yg minim informasi dg keberadaan ahmadiyah. tetapi kalau sudah masuk dalam lingkaran mereka barulah paham2 mereka yg sebenarnya diberikan. hati2 aja mba….mereka emang begitu caranya mensyiarkan agamanya. jangan sampai kita terjerumus masuk ke dalam lingkaran mereka.

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!