Beranda

Dampak Negatif Mom Shaming dan Cara Menghentikannya

Dampak negatif dari mom shaming

Setelah melahirkan Zahra anak pertama saya, boleh dikatakan saya terkena sindrom baby blues walau tidak berlangsung lama tapi efeknya terhadap psikologis luar biasa. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi psikologis saya saat itu adalah Mom shaming

Rupanya, kasus Mom shaming ini banyak dialami oleh ibu-ibu bahkan setelah punya anak lebih dari satu ibu masih mengalami Mom shaming. Agar hal ini tidak berlanjut dan merugikan ibu lainnya, ada baiknya moms perlu mengetahui dampak negatif Mom shaming dan cara menghentikannya.

Apa Itu Mom Shaming?

Menurut Gita Ayu Puspita, M.Psi., seorang Psikolog, Mom shaming adalah perilaku dimana terjadi pemberian kritik atau komentar kepada seorang ibu terkait pilihan keputusannya yang justru membuatnya tertekan karena diucapkan dengan nada negatif. Bentuk nada negatif itu biasanya disertai dengan perilaku mempermalukan ibu lainnya seakan diri sendiri lebih baik.

Kondisi seperti inilah yang terkadang membuat ibu seperti berada dalam sebuah kompetisi dengan para ibu lainnya. Tak jarang kompetisi ini malah berujung membuat para ibu saling mempermalukan satu sama lain. Mulai dari membahas penampilan fisik hingga mengomentari pola asuh.

 

Mengapa Orang Melakukan Mom Shaming?

Tahu tidak sih moms, orang melakukan Mom shaming datang dari dirinya sendiri. Beberapa faktor orang melakukan Mom shaming di antaranya:

  • Melampiaskan kemarahan, ketika ibu marah pada Si Kecil dan tidak dapat melampiaskannya, biasanya mereka akan memilih untuk melampiaskannya pada orang lain. Salah satunya dengan mempermalukan ibu lainnya dengan demikian mereka akan merasa lebih tenang.
  • Jenuh, umumnya rasa jenuh akan memancing seseorang melakukan sesuatu yang dapat membuat kejenuhannya terlampiaskan. Salah satunya adalah dengan melakukan Mom shaming, entah di sosial media maupun di lingkungannya sendiri.
  • Cemburu, terkadang para ibu mungkin merasa cemburu terhadap ibu lain yang memiliki kelebihan. Untuk menutupi rasa cemburu tersebut akhirnya mempermalukan ibu lain, agar merasa bahwa mereka yang lebih baik dan beruntung.
  • Ingin mendapat pengakuan, guna mendapat pengakuan atau dipandang oleh lingkungan sekitar, tak jarang akhirnya para ibu melakukan Mom shaming.

 Baca Juga: Pentingnya Memberikan Edukasi Menstruasi Kepada Anak Perempuan

Hal yang Sering Menjadi Bahan Mom Shaming

Suka atau tidak suka, ada-ada saja hal yang dijadikan bahan Mom shaming oleh ibu lainnya. Seperti penampilan ibu, ibu bekerja vs rumah tangga, metode melahirkan, nutrisi anak, pemberian ASI vs sufor, disiplin anak, pola pengasuhan dan lain-lain.

 

Bentuk Mom Shaming yang Sering Terdengar

Dampak Negatif Mom Shaming dan cara menghentikannya(Sumber Gambar: Qubisa.com)

Iya kan moms, tidak bisa dipungkiri bahwa bentuk Mom shaming di atas biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang paling menyakitkan adalah jika komentar-komentar tersebut datang dari lingkungan sendiri terutama keluarga.

 

Inilah Dampak Negatif Mom Shaming terhadap Ibu

Sebagai ibu yang pernah mengalami Mom shaming, saya tahu betul bagaimana efek dari Mom shaming itu dan mungkin juga pernah atau sedang dialami ibu lainnya. Dampak negatif dari Mom shaming ini bisa membuat kepercayaan diri ibu terguncang dan meningkatkan kecemasan tentang pengasuhannya. Munculnya kecemasan tersebut karena takut dikritik dan disalahkan, apalagi jika kritik tersebut datang dari orang yang kita percayai akan lebih menyakitkan. Dan seiring waktu, kecemasan tersebut dapat berbahaya bagi kesehatan ibu dan anak.

 Baca Juga: Manfaat vitamin B Kompleks dan Sumbernya

Cara Menghadapi Mom Shaming

Saya atau moms yang pernah atau sedang mengalami Mom shaming percayalah bahwa ada hal yang bisa dilakukan dalam menghadapinya, seperti cara berikut ini:

Percaya Diri

Moms harus percaya bahwa apa yang dilakukan adalah yang terbaik untuk Si Kecil dan diri sendiri.

Tetap Berpikir Positif

Yuk moms tetaplah berpikir positif dalam menghadapi masukan dan kritikan yang ditujukan kepada kita, dengan demikian moms dapat mengendalikan emosi negatif.

Cermat Memilah

Kritikan memang dapat memiliki nilai atau pandangan yang baik. Tapi, yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga adalah kita. Jadi, cermatilah dalam memilah, menyeleksi dan menyaring masukan dan kritikan yang dilontarkan kepada kita.

Bijak dalam Merespon

Seringkali Mom shaming datang dari keluarga atau teman, dalam hal ini moms harus menyikapi dengan tenang. Adapun Mom shaming yang datang dari orang tidak dikenal, abaikan hal tersebut.

Jangan Lupa Tersenyum, Jika Perlu Gunakan Gurauan

Ini trik yang biasa saya terapkan saat mengalami Mom shaming di lingkungan keluarga. Sebaiknya merespon dengan senyuman dan bahkan membalasnya dengan gurauan/candaan. Misalnya komentar mengenai anak saya kok kurusan. Yah dijawab aja anak juga kadang mau diet sambil tersenyum.

Libatkan Suami dan Keluar dari Lingkungan Toxic

Saat mengalami Mom shaming ada baiknya berdiskusi dengan suami. Bisa saja suami memiliki pandangan lain atau paling tidak bisa memenangkan kegundahan yang sedang dialami. Selain itu, jika memang lingkungan yang dimiliki bisa memperparah kondisi kejiwaan, maka keluar dari lingkungan toxic adalah pilihan tepat.

Pikirkan Kesehatan Mental

Ibu yang kesehatan mentalnya terganggu akan mempengaruhi Si Kecil, untuk itu moms yang mengalami Mom shaming jangan terlalu larut dalam perasaan sedih. Pikirkan kesehatan mental untuk kebaikan Si Kecil.

Bersabar

Mengalami Mom shaming tentu membuat kita sedih bahkan trauma. Hal ini wajar, tapi kita harus bangkit kembali. Karena hidup ini ada pasang surutnya. Dengan memiliki kesabaran, maka kita bisa menerima diri sendiri, menjadi lebih bijak dari sebelumnya dan bahkan lebih tangguh.

 Baca Juga: Tantangan Kehamilan Kedua yang Jaraknya Dekat

Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Menghentikan Mom shaming

Jangan sampai kita menjadi Mom shamer bagi ibu lainnya baik disengaja ataupun tidak. Dampaknya terhadap psikologis juga tidak boleh diremehkan. Untuk itu hal seperti ini harus dihentikan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

Pentingnya Memiliki Teknik Komunikasi

Kesalahpahaman terjadi karena sebagian besar disebabkan komunikasi yang buruk. Jika ingin memberikan saran atau kritik kepada ibu, sebaiknya pahami teknik komunikasi yang baik agar kritikan yang diberi tidak menjatuhkan mental ibu lainnya.

Berikanlah Kritik Positif Ketika Diminta

Cara lain menghentikan Mom shaming adalah memberikan kritikan positif hanya ketika diminta. Dengan demikian ibu yang ingin menerima saran jauh lebih siap mendengarkan masukan.

Pahami Timing yang Tepat untuk Berkomentar

Seringkali kita tidak bisa menahan untuk berkomentar terhadap kondisi ibu lainnya, tapi ingatlah bahwa semua punya timing untuk memberikan masukan.

Upgrade Skill dan Self Development

Daripada menjadi Mom shamer atau korban Mom shaming, ada baiknya kita sebagai ibu melakukan kegiatan positif dengan menambah skill dan pengembangan diri. Jaman sekarang, moms juga bisa berkarya walau berstatus ibu rumah tangga. Selain itu, ibu yang mengalami Mom shaming bisa melakukan self healing dengan mengembangkan diri seperti yang saya lakukan saat ini.

Upgrade skill dan self development bisa dilakukan dengan mengikuti kursus online gratis atau berbayar. Berdasarkan pengalaman saya, platform belajar online terbaik ada di QuBisa.

Tentang Platform E-learning QuBisa

QuBisa adalah platform belajar daring terpercaya untuk pendidikan dan pembelajaran. Siapapun bisa belajar melalui platform QuBisa.

Manfaat Belajar di Qubisa

Akses Kursus Online Gratis dan Berbayar Tanpa Ribet

Tahu tidak sih moms, pertama kali mengakses platform QuBisa, saya begitu senang karena ternyata bisa mengikuti kursus online gratis dan webinar pengembangan diri secara gratis pula. Salah satu materi untuk pengembangan diri yang saya dapatkan adalah Stop Mom Shaming dan Cara Menghentikannya. Tentu setelah mengikuti microlearning tersebut di QuBisa, saya termotivasi untuk belajar banyak hal.

Tersedia Banyak Topik Pembelajaran Terutama Career Development

Di era yang serba digital sekarang, kita dituntut untuk memiliki skill yang bisa menyesuaikan diri. Beruntung karena platform belajar online QuBisa menyediakan pembelajaran dimana kita dapat mengasah keterampilan digital milenial dan sukses milenial. Sebagai ibu rumah tangga dan juga Blogger, platform belajar online QuBisa sangat membantu saya dalam mengupgrade skill dan pengembangan diri sehingga menunjang karir yang ingin saya geluti saat ini. Sama halnya jika ingin mengembangkan usaha yang dimiliki, kita dapat mendapatkan kursus online digital marketing di QuBisa.

Belajar Dapat, Hadiah Dapat

Moms pasti suka nih karena platform QuBisa kita dapat belajar sekaligus mendapatkan hadiah. Saat ini QuBisa mengadakan kontes lomba video microlearning festival berhadiah 95 juta. Kabar gembira tentunya bagi moms atau siapapun yang suka membagikan konten video inspiratif dan mendidik. Selain itu, moms juga dapat mengumpulkan poin di Liga PoinQu sambil belajar. Jadi asyik yah moms sambil belajar, kumpulkan poin dan menangkan hadiahnya.

Upgrade Diri

Awalnya saya hanya mengambil microlearning dengan tema Dampak Negatif Mom Shaming karena berhubung saya pernah mengalaminya, tapi setelah mengikuti materi tersebut, ada dampak positif yang saya rasakan setelah belajar kilat di QuBisa. Sebagai ibu, saya kembali termotivasi dan tidak mau larut saat mengalami mom shaming, begitupun saya berusaha agar tidak menjadi mom shamer bagi ibu lainnya. Dan ternyata saya tidak hanya mendapatkan motivasi di QuBisa tapi bisa melakukan upgrade diri dengan memanfaatkan pembelajaran yang disediakan platform belajar online QuBisa seperti mengetahui strategi digital marketing, kepemimpinan, keterampilan bahasa Inggris dan skill lainnya yang saya butuhkan sebagai ibu rumah tangga yang bisa berpenghasilan walau di rumah aja.

Nah sekian dulu sharing dari saya moms, semoga kita semua bisa terhindar dari Mom shaming dan tidak menjadi Mom shamer. Untuk moms yang ingin mendapatkan manfaat dan pengalaman seperti saya di QuBisa, langsung aja kepoin website QuBisa atau kunjungi instagram @qubisa.id. Yuk upgrade diri mulai sekarang juga.

122 thoughts on “Dampak Negatif Mom Shaming dan Cara Menghentikannya

  1. Saya pernah mengalaminya. Anak saya dibilang anak jago kandang, anak tidak cukup gizi, dll.
    Tapi yaitu, sama saya hanya senyum aja. Sambil dikasih gurauan. Meski dalam hati suka jengkel juga.
    Tapi lama lama itu yg nyinyir capek juga kali ya ngelihat di saya gak ngaruh sama sekali. Jadinya diam dengan sendirinya. Sekarang anak saya udah mulai bergaul, juga gemukan
    Saya malah jadi kangen dinyinyirin lagi
    Kok anaknya main terus?
    Ih anaknya gendut banget?
    Wkwkwkwkkk…

      1. Semoga sih ga mengalami lagi. Tapi namanya manusia, gak nyinyirin soal anak atau body, ya pekerjaan saya yg dinyinyirin. Mirip sama yg ngepet itu. Saya gak kemana-mana tapi kok banyak paketan datang? Wkwkwkwkkk…
        Yg nyinyir kayanya harus diajak ngendorse

  2. Pernah mengalami juga, kalo aku lebih suka dicandain kalo ada yang shaming gitu, jadi ga ada yang berani lagi dan canggung, hihi.
    Yang penting bener, dulu pun fokus ke pengembangan diri aja, sibuk sendiri.

    Jaman now enak ada Qubisa yang bisa menjadi bahan wawasan dan pengembangan diri, yang penting juga saling support antar mom.

  3. Kayaknya gak dimana-mana suka nemu emak-emak mom shaming, entah itu dibilang anakku kurang gizi lah.. padahal memang perawakan anaknya kecil ikut mama papanya, sedangkan prof Agus spesialis anak aja bilang nggak, tapi ada oknum ibu yang suka sok tau. Hehe.

    1. Hihii, lucuk dan menggemaskan emang ya Buibu..
      Apalagi moms dijaman now kalo aku denger langsung , atau nguping saat di cafe, kadang duh sok tahunya melebihi ahlinya.

    2. Daku pernah membaca berita atau temlen seperti itu juga sih. Jadi bekal nih kalau nanti daku berumahtangga untuk persiapan mental menghadapi seperti itu

  4. Aku waktu melahirkan anak pertama sempat kayak gini, mbak. Bukannya happy malah nangisss aja bawaannya. Pas anak kedua udh mulai agak kebal sama omongan2 GK enak. Alhamdulillah.

  5. Miris juga ya, Mbak, masih ada saja perlakuan mom shaming di sekitar kita. Padahal sesama mom, harusnya bisa memahami dan saling menyemangati ya.
    Setuju dengan langkah yang diambil Mbak Ainhy, lebih baik berpikir positif dan meng-upgrade diri.

    1. Gak di sana gak di sini, mom shaming itu ada, ya. Heran juga sih sama ibu-ibu yang mulutnya gitu. Kenapa sih harus komen negatif ke sesama ibu atau perempuan, ya.

    2. Bijak dalam merespon itu yang bikin saya sekarang harus berubah banyak. Dulu asal njeplak aja kata orang, sekarang banyak diam dan memperhatikan dan komentar pas dibutuhkan dan sangat urgent baru terdengar suara.
      Ternyata ini bisa menjaga saya untuk menormalkan diri

  6. kalau saya nih mba mendingan menghindari lingkungan yang toxic. soalnyaa kadang itu memberi dampak yang kuat ke diri kitaa.. aku merasakan sendiri perubahannya, setelah mengurangi berinteraksi orang2 yang suka mom shaming, ternyata malah berdampak baik.

  7. Iya sih. Di desa meski nggak ngerti istilah mom shaming, banyak juga yang melakukan ini. Misal, pada banding-bandingin bayi si ini dan si itu. Iya sih kadang itu dilakukan di belakang emaknya. Tapi namanya juga omongan ya. Bisa sampai kapan aja.

    Materi mengenai dampak negatif mom shaming kudu diketahui banyak orang. Jadi kita bisa belajar tentang ini di platform belajar online kayak qubisa juga. Wow… Menarik.

  8. Mungkin saya pernah mengalami mom shaming, terutama dalam hal ASI vs sufor, tapi enggak terlalu saya pikirkan. Saya lebih memilih menyibukkan diri dengan upgrade skill meskipun sambil bekerja dan momong anak.

  9. Yep, kezel banget kalo misal kita jadi korban mom shaming, tips2 yg Kak Ainhy jabarkan bisa banget membuat kita berdamai dgn mom shaming
    makasi sharing-nyaaaa

  10. Yang biasa terjadi sih karena cemburu, dan memang toxic banget kalau sudah saling mencela begitu. Ibu yang udah benar malah jadi canggung bersikap, bisa-bisa menggerogoti kepercayaan dirinya. Untunglah bisa ikut pelatihan di QuBisa ya, Kak, praktis dan hemat karena bisa online. Ada hadiah puluhan juta pula dari microlearning festival. Banyak pilihan topik dan bisa dilakukan kapan saja.

  11. Pas punya anak-anak masih kecil malah aman lho aku. Zaman itu belum ada medsos, dan kayak kehilangan teman krn pada sibuk masing-masing. Nah, pas anak udah gede, ada medsos kok malah kena nyinyir. Huf….
    Kuncinya sih cuekin aja, ato grundelan aja curhat ke suami. Untungnya sih bapak-bapak cuma jadi pendengar yg baik aja, ato engga dengerin kalik. Hahahah….

  12. masih suka heran sama orang-orang yang berkomentar soal mom shaming ini, mungkin mereka kurangnya pengetahuan terhadap banyak hal, tidak memikirkan kalau kata-katanya akan memberikan tekanan dan berdampak pada psikologi si momi itu, semoga dengan adanya edukasi ini dapat membuka wawasan orang-orang yang suka lempar ucapan mom shaming ini

  13. Banyak kok saya nemuin orang kayak gitu, tapi biarin bae, ora usah didengerin. Tapi kasian sih bagi orang yang baperan, pasti akan kepikiran terus. Ujung-ujungnya jadi down.

    Wah menarik juga bisa belajar banyak soal self development di QuBisa. Di QuBisa memang banyak bisanya ya.

  14. Daku pernah dengar juga teman yang merasa lingkungannya toxic karena mom shaming itu.

    Semoga para mom lebih berpikir jernih ya, tidak perlu saling mencela atau bagaimana, yang seharusnya lebih baik mendukung kan.

  15. entah kenapa sekarang aku termasuk yang berani membantah atau minimal menjawab kalo ada yang body shaming. biar sama-sama mikir dan ngga terulang ke yang lain mba.

  16. Aku kemarin juga sempat ikutan QuBisa ini, masyaAllah dah banyak bangett microlearning yang bisa diikuti dan diambil manfaatnya ya mba

  17. Pelajaran pernting sekali ini mbak, apalagi internet dan sosial media mudah sekali kita mengomentari atau menanggapi sesuatu. Terpenting, menjadi seorang ibu/wanita saat ini kudu cerdas juga.

  18. Saya dah kenyang menghadapi mom shaming sampe-sampe udah kebal loh kak.

    Dulu sering dibilang sayang pendidikannya. Lalu kasian anaknya, masih kecil udah punya adek.
    Lanjut sampe dibilang rajin kali produksi anak.
    Saya cuma senyumin aja. Biasanya pelaku mom shaming itu adalah orang yang gak berkontribusi langsung terhadap kehidupan kita.

  19. Wah di Qubisa ada tema yang menarik mengenai mom shaming ini ya. Saya juga sudah kepoin websiten dan banyak hal menarik yang bisa dipelajari di Qubisa ini ya. Apalagi bisa jadi wadah yang recommended untuk kita para moms yang mau mengupgrade diri

  20. Makanya aku takut bgt kalo banyak nanya ini itu sama ibu yg baru melahirkan, apalgi kalo anak pertama, takut lisan ini salah bicara malah jatuhnya mom shaming. Tau bgt mom shaming itu dampaknya bisa fatal. Semoga kita selalu bisa ngejaga lisan ya

  21. Saya pernah mengalami mom shaming dan mungkin secara nggak sadar melakukan mom shaming. Sekarang udah mulai fokus ke anak dan kesibukan sendiri. Jadi nggak punya waktu untuk dengerin omongan orang atau mengkritik parenting orang lain.

  22. Aku pernah di mom shaming pe trauma dan ga mau balik lagi ke rumah tersebut. Dikira pembantu lah. Dibilang ga kerja lah. Dibilang anak kurus lah. Dll. Akhirnya pergi deh aku pindah rumah. Soalnya ga cuma 1 tetangga yang begitu. Mending aku menyelamatkan mental ku dan mental anakku. Kemarin aku juga lihat microlearning Qubisa yang tentang momshaming ini

  23. Aku malah baru dengan istilah mom shamming, tapi kasus2nya sudah sering dengar ternyata. Tetap berpikir positif supaya bisa mengendalikan emosi negatif

    1. harus dihentikan ya mom shammong karena pasyi dampaknya negatif buat si ibu itu sendiri. Instrospeksi diri juga penting ya supaya kita jug agak melakukan mom shamimg

  24. Di dunia maya kita banyak bertemu kalimat women support women, di dunia nyata malah susah menemukannya. Ibu selalu jadi pihak yang tak ada benarnya. Emang benar, lebih baik kita mengupgrade diri daripada memikirkan hal yang tidak ada manfaatnya buat diri kita…

  25. Kayaknya setiap fase kehidupan kita itu rentan bullying ya… dari yang ringan sampe yang parah.
    Semoga kita terus dilindungi dan mental terus kuat ya menghadapi mereka yang seneng mempermalukan orang lain

  26. iya nih, aku benci banget sama orang yg mom shaming
    gak tahu diri, menyakiti hati
    dan sebisa mungkin aku juga menjaga sikap dan bicaraku kepada ibu-ibu, sebab mereka perasa

  27. Aduh, yang belum nikah macem aku baca ginian kayaknya emang pernikahan itu adalah perjuangan tiada akhir ya mba. Apalagi jadi seorang mommy, istilahnya kudu ‘tahan banting’ dan punya mental kuat banget.

  28. Setuju banget Mbak, yg menghadapi mom shaming dg gurauan. Suka gitu emang tuh orang² bahkan terkadang sesama buibu pula,, kurang empati ya, hehe… Btw bagus juga belajar self development di Qubisa ya

  29. Kalau diingat2 keknya aku bukan hanya pernah jadi korban, tapi juga pernah jadi pelaku deh. Kadang suka nggak sadar kalau pernah jadi pelaku. Saking maunya ramah dan sok basa-basi, eh jatuhnya malah mom shaming.

    Tapi itu dulu dong. Sekarang setelah “mainnya” semakin jauh, apalagi kenal Qubisa.. dadah byebye lah buat momshaming. Yang ada hanyalah mom support mom. 🙂

  30. sering sih nemu mom shaming di mana2, kalau saya sih karena anak saya sufor dan berat badan ga balik padahal anaknya udah 8 tahun lol, trus anaknya kurus kayak bapaknya jadi dikira ga diurus hahaaaa

  31. Nah, bener banget ini. Salah satu menghadapi shaming2 yang gak jelas di luar sana seperti mom shaming atau body shaming adalah meningkatkan kapabilitas diri, meningkatkan rasa percaya diri. Dan tema seperti ini juga ada di QuBisa loh ternyata yaa. Keren emang QuBisa ini. Teman yang baik untuk mengembangkan diri

  32. Pernah ngalamin dan masih ngalamin juga karena anak-anak masih kecil juga. AKu ga pernah ambil hati, karena pernah di fase yang beneran jadi drop dan emosian. Ga baik buat diri dan anak-anak juga suami.
    Enak ya ada platform Qubisa ini, mau ulik ahh biar banyak belajar dan inspirasi lagi

  33. Aku mengalami juga niy disindir tebtang banyak hal dan berulang-ulang pula. Bahkan ada yang masih erlangsung sampai sekarang, ahahhah. Ya begitulah manusia, banyak yang merasa lebih baik dari orang lain. Mendingan kita fokus sama diri sendiri aja, berusaha abaikan komentar2 negatif biar gak meracuni hidup kita.

  34. betullllls, mom shaming ini memang nyebelin banget, aku pun pernah jadi korban dan sekarang sebisa mungkin gak mau jadi pelaku, krena emang bener2 nyebelin mom shaming itu, ibu tuh harusnya saling support bukan saling benci

  35. Wah ada materi tentang ini juga ya di QuBIsa. EMang komplit banget ya, belajarnya juga ngga membosankana kalau pake konsep microlearning gituu

  36. Kalau mom shaming emang datang dari diri sendiri berarti perhatian orang sekitar sangat diperlukan ya mba. Kalau saja tidak ada yang support bakal bahaya, duh sedih banget tahu ada mom shaming :((

  37. Kalau mom shaming emang datang dari diri sendiri, berarti perhatian orang sekitar sangat diperlukan ya mba. Kalau saja tidak ada yang support bakal bahaya, duh sedih banget tahu ada mom shaming :((

  38. Memang agar tidak menjadi pelaku ataupun korban, kuncinya adalah terus upgrade diri. Dengan upgrade diri kita nggak akan punya cukup waktu buat ngurusin hidup orang lain, sehingga insya Allah terjauh menjadi pelaku momshaming. Sementara itu dengan terus upgrade diri, kita juga bisa lebih bijak kalau ada orang2 yang nyinyir, bisa memilih mana yang harus didenger dan tidak.. sehingga nggak perlu merasa jadi korban.

    Semangat untuk semua ibu, lets support other mom 🙂

  39. Bijak dalam menanggapi…, nah ini kadang tergantung mood. Kalo kesal biasanya balik nyerang..nyolot..

    Kalonbaca inj..kalo gak mau ..ya jangan..mom shamibg ke ibu2 lain.., karena apapun itu harua dimulai dari diri sendiri…pokoknya rem deh mulut..kali sekiranya itu bisa jadi toxic ke orang lain..

  40. kurang kerjaan juga bisa membuat orang momshaming kepada orang lain mbak hehehehe… Kalau pikiran kita punya kesibukan, sepertinya ga bakalan sempat mikirin orang lain…

  41. Intinya pada pengendalian diri ya, jangan mengatakan sesuatu yang kita sendiri nggak bakal senang dikatain seperti itu

  42. Fase ini aku udh lewat mbak, Alhamdulilah-nya aku termasuk yang sebodo amat sama perkataan orang karena tetep konsultasi ke dokter spesialis anak. Banyak yang sok ngatur dan menjudge anak kita begini dan begitu tentang gizi, padahal dia sendiri bukan ahli gizi. 😅

  43. Padahal sesama perempuan ya mba, koq bisa ya ngelakuin mom shaming kayak gitu, untungnya di QuBisa ada cara menghadapi hal ini, saya juga pake QuBisa buat akses microlearning mba, banyak bgt ilmu yg didapat kan ya 🙂

  44. Karena aku gak tahu kondisi Ibu-ibu, makanya sekarang aku gak ikut komentar apa-apa soal anaknya atau kehidupannya. Nanti kalau dia posisinya gak baik, kan bisa salah kita

  45. Mom shaming ini masih sering banget kita dengar ya kalau dulu aku di omongin orang suka baper dan kepikiran tapi klo sekarang udah bodo amat sih.Pokoknya kita harus lebih berfikir positif dan fokus lakukan yang terbaik, udah gitu aja.

  46. Kalau Mom shaming dari keluarga memang harus dilihat dari berbagai sudut pandang, salah satunya dengan berpikir positif. Apalagi kalau keluarnya dr mulut orangtua yg pola pikirnya dan penyampaiannya beda banget. Semangat untuk semua Momm 🙂

  47. Setuju banget ama sarannya nih kak, daripada pusing urusin mom shaming terus, mending upgrade skill aja. lebih positif dan pastinya banyak manfaatnya kaaan

  48. Mungkin tulisan ini dapat mewakili para Ibu-Ibu baik yang sudah melahirkan ataupun belum agar hati-hati merespon segala sesuatu yang berkaitan dengan Mom Shaming, meski sekadar gurauan ya. Sebaliknya, para Ibu kudu berpikir positif dan berusaha berbesar hati. Nggak usah dijawab, disenyumin aja trua ditinggal pergi haha

  49. Mom shaming bisa meruntuhkan rasa percaya diri yang mungkin susah payah dibangun. Jadi keterlibatan dan dukungan orang terdekat memang membantu banget.

  50. Cemburu sih salah satu yang paling banyak orang jadi Mom shaming. SUka heran juga kenapa sih kalo komentar tu ga pake mikir perasaan orang dulu, maen ketak-ketik aja luapin emosinya. ZBL. KZL. Nah kan jadi emosi eyke ;D

    1. Adikku juga pernah alami baby blues ini, ya akibat banyak orang yg kasih saran dan kritikan pada adikku yang jadi ibu baru. mungkin karena mereka pernah jadi ibu dan melahirkan sehingga banyak saran dan kritik pada adikku. bagus sih sarannya tapi bikin adikku tertekan dan takut melakukan kesalahan pada bayinya tp justru bikin adikku malah strees.

  51. berat ya menjadi seorang ibu, jangan dibuat lebih berat lagi dengan mom shaming. aku juga sering banget mendengar perkataan orang tapi cuekin aja selama mereka enggak memberikan manfaat woles aja,

  52. menjadi ibu itu gak mudah ya mbak, jangan ditambah berat dengan mom shaming, aku juga sering denger sesama ibu yang banyak komentar nynyir, suka mikir, kok ada ya ibu ibu jenis ini haha

  53. Iya suka aja ada orang yang tanpa etika seperti itu, kalau aku cuekin aja sih, berpikir positif aja ambil yang baiknya buang yang burukny jadi evaluasi juga. Emang ga enak di awalnya ada perasaan kesal, marah dan lainnya, tapi emosi ini harus dikelola jangan sampai perkataan orang lain merusak mood kita :d

  54. Seriiing nih anakku dikatain hizi buruk juga pernah lha wong makannya banyak padahal kan ya. Tapi mulai saat itu kudu nebelin telinga aja deh

  55. Mom shaming ini keknya warisan zaman baheula yaaa. Aku dah kenyang sat anakku msh cilik2 dibilang kuyus2 hahaha
    Aku sih cuek aja. Nanti juga berhenti sendiri “gonggongannya”
    Yg penting kita gak ikut2an jelekin keputusan2 yang dibuat oleh ibuk2 lain, kalau gak diminta pendapat gak ngomong, dah gtu aja prinsipku skrng haha

    1. Upgrade skill ini emang penting banget ya buat ibuk2
      Tapi kalau bisa niatnya emang buat diri sendiri, jangan diniati buat show up kepada org lain xixixi
      Nanti tanpa ditunjukin juga orang akan tahu sendiri kapasitas kita, jd ibu dengan pilihan apapun insyaAllah yang terbaik
      Semangaatt

  56. Uda paling menyebalkan yaa..mom shaming ini.
    Tapi aku dulu mengalaminya juga siih… Untungnya mungkin karena jaman dulu sosial media belum masif seperti saat ini.
    Jadi memang kudu banget memilah-milah informasi yang beneran harus di respon dan tidak perlu direspon. Cepet-cepet buang tong sampah.

  57. biarin aja kak yang pada mom shaming, semedi aja sambil belajar online di qubisa, ntar tau2 udh lebih sukses dari yang kerjaannya ngomenin kita doang, hih :))

  58. Yup, betul sekali jika pelaku mom shamming adalah orang yang tidak bahagia dengan dirinya sendiri. Maka menyikapinya adalah dengan ketenangan dan gak perlu balik ngegas ya hehe..

  59. Hampir semua wanita menjadi moms shamming tanpa sadar seperti ketika bertanya, kok kamu gendutan atau ih kamu beli baju mahal amat, aku beli murah, dan lain sebagainya. Jadi memang kita harus mawas lidah hehehe

  60. Pernah juga ngerasain jd korban mom shaming. Kalo pas lagi baper ya kena juga sih di hati tp setelah banyak baca dan ngobrol sama suami yg bantu menguatkan diri kalo ada yg ngata2in lagi ya disenyumin aja kalo ga ya dibencadain. Daripada bikin sakit hati kan

  61. mom shamming ada di mana2 daaaannn yg melakukan juga kebanyakan wanita eh ibu2 juga, duh miris benernya.
    satu sih paling ampuh jauhin lingkungan maupun orang toxic sampai kita yakin bisa berhadapan lagi.

    qubisa oke juga nih ya mbak

  62. bener banget mbak, mom shaming ini mengganggu banget ya lahir batin, jangan sampai kita jadi yang melakukan mom shaming karena tentu kalau kena perasaan pasti gak nyaman dan sedih

  63. Memang mom shaming ini jadi hal lumrah ya Mak, bahkan artis di medsos pun sering jadi pelampiasan, dianya yang bermasalah, malah orang lain yang dirundung.. Biar puas hatinya, nggak tahu kalau kelakuan seperti ini bisa dipenjarakan

  64. Apalagi kalau tinggal di kompleks hahaha, celetukan yang menurut mereka biasalah…tapi bagi ibu yang sedang sensitif jadi persoalan sendiri, susahhh memang menghindar dari mom shaming soalnya ada aja satu atau dua ibu masih suka begitu, jadi kitalah yang harus mengupgrade skill mengontrol emosi diri agar lebih bijak menghadapi mom shaming, btw aku juga udah ikutan banyak kelas di QuBisa.

  65. Di masyarakat, termasuk ditempat saya bekerja yang hampir 60% ibu-ibu sering banget mereka membicarakan sesamanya. Mulai dari penampilan dan lain sebagainya. Padahal dengan begitu dapat menyakiti perasaan orang yg dibicarakannya. Apa umumnya perempuan itu seperti itu ya?

  66. Cibiran kepada emak2 emang udh biasa sih. Apalagi lidah tetangga. Mulutnya emang ga bs dikendaliin. Bagus sekali tuh tipsnya. Kita harus bijak dalam menyikapi. Tetap berpikir positif aja sambil perbaiki diri. Yang nyinyir biarin aja lah. Mungkin dia emang iri. Hehehe..

  67. Aku sendiri pernah mengalami mom shamming nih sejak awal melahirkan, “kok manja sih harus SC”, padahal ya kondisi waktu itu sangat berat banget dan bayi harus segera dilahirkan.

  68. benar ya mbak, kadang mom shaming bikin nggak percaya diri ya mbak
    makanya perlu meningkatkan skill, untungnya sekarang bisa ikutan kursus online di Qubisa

  69. tidak hanya untuk mom. sebaiknya setiap orang menghindari perkataan buruk kepada orang lainnya. Molly tapi masih juga kadang khilaf suka ngeghibah nih huhuu..

  70. Klo jaman sy mahmud (mamah muda hahaha) ada istilah momwar, ya gini debat ibu-ibu soal asi , caesar, sufor. Saya milih ngeblog aja daripada ikutan momwar, karena apapun pilihannya tiap orng punya alasan dan ga bisa disamain. Nah harusnya bu ibu yg jenuh belajar di Qubisa daripada mom shaming atau momwar

  71. Mom shaming ini memang nyebelin, harusnya kita sesama ibu saling support kok ya sukanya menjatuhkan. Betul banget mba harus upgrade ilmu, supaya kita makin pede dengan diri kita sendiri dan punya kegiatan positif biar jauh2 darj ngomongin orang hehe

  72. mom shaming itu kadang jadi habit ya mak aku pun kadang suka worry kata2ku ada yang salah gak atau gimana :”)
    cuma kalau dipikir-pikir emang dari kitanya yang kudu bentengi diri :”) biar kuat dan bisa tahu jauhi toxic biatr ga sakit hati

  73. Support dari keluarga terutama suami penting banget ketika menghadapi mom shaming. Sekuat-kuatnya kita yaa bisa aja goyah kalau diterpa isu atau omongan yang enggak enak di hati.

  74. Awal-awal menjadi ibu dulu saya juga galau karena Mom Shamming. Sekarang mah lebih ke bomat. Bodo amat. Malah bikin capek dan gak fokus ngurus anak. Emang sih, ini susah dihindari, tetapi mau gak mau kita harus bangkit biar gak semakin terpuruk gara2 Mom Shamming. Bagus ya, ada webinar begini. mau nyoba daftar QuBisa jugadeh.

  75. Pada masanya dulu aku pernah tersulut oleh mom shaming yang dilakukan pada ibu bekerja. Sekarang jadi malu malahan, kenapa dulu hal itu kujadikan bahan keributan di media sosial hehehee… Memang butuh pengendalian diri luar biasa untuk menahan hawa untuk membalas ejekan dari mom lain terkait pola pengasuhan yang sudah kita pilih.

  76. Anaknya rewel nggak Bu? Iya rewel. Ooh kalau anak saya anteng banget. Soalnya begini begitu bla bla bla. Nah dengan kata-kata begini saja seorang ibu udah bisa down karena dibanding-bandingkan.

  77. waktu awal-awal punya anak pertama juga saya baperrr banget klo ada yang ngebanding-bandingin
    sekarang mah udah bodo amat lah! tiap anak unik, yang penting tumbuh-kembangnya sesuai standar, hehehe

    sekarang jadinya saya lebih selektif untuk berkomentar
    kalau mau komen, better ada solusi
    kalau cuma mau komen doang, mending diem aja

  78. Ingin dapat pengakuan.

    Nah aku sepakat banget sama poin kenapa ada saja orang yang masih melakukan Mom Shaming kepada ibu lainnya, seolah dirinya lah yang lebih baik dan jadi terbaik.

  79. Kalau udah mom shaming gitu suka sebel memang ya. Padahal ibu yg baru melahirkan itu lagi sensitif sensitif nya.. emang pembuktian paling bagus itu ya menunjukkan kualitas diri. Seperti ikutan kelasnya di Qubisa misalnya

  80. Wah aku baru tahu di qubisa ada kelas keren begini.
    Mom shaming emang nyebelin sih. Padahal sesama perempuan tuh harusnya saling mendukung dan menguatkan ya. Ya deh gak usah dipikir. Hehe.. Fokus ama kelebihan aja. Orang nyinyir mah cuekin aja

  81. Lengkap banget ya materi yang ada di Qubisa ini, ada temanku yang ikutan buka web ini setelah lihat postingan sertifikatku dari Qubisa. Dia takjub sama platform belajar online ini, lengkap banget katanya mau belajar apa aja ada…

  82. Mom shaming memang bisa jadi salah satu faktor yang memperparah baby blues. Jadi inget dulu waktu anak pertama masih bayi, rewel terus. Eh bukannya bantuin, seorang tante bilang, “ASImu tuh sedikit sih, makanya anakmu rewel terus. Kalau gini ya nggak bisa ASI Eksklusif. Mending kasih susu aja daripada anakmu lapar.” Coba 14 tahun lalu ada Qubisa udah saya suruh si tante ikutan microlearning ini biar sadar.

  83. Pas pertama punya anak pernah dikatain gini,”Itu ada ASI-nya ga, teteknya kecil gitu,” alhamdulillah sih 2 anak saya bisa ASI sampai 2 tahun, mom shaming emang bikin mangkel walaupun dulu disenyumin aja tapi gondoknya masih sampai sekarang

  84. emang paling sebel deh kalo denger ada yang momshaming apalagi ke sesama perempuan. huhuhu. knapa pada jaha jahat banget sih.. kita emang harus memutus mata rantai si momshaming ini mulai dari diri kita sendiri yaaaa

  85. Perlu ada semacam gerakan terstruktur untuk memutuskan kebiasaan body shaming ini
    Dimulai dari rumah, diri kita sendiri dulu
    Karena kalau bukan kita dulu, akan susah membentuk orang lain

  86. Hmmm… mom shaming itu menyebalkan kalau menurutku sih. Untungnya, sejak punya anak dulu, aku emang jarang bergaul dengan ibu-ibu kompleks. Entahlah, dasarnya kurang suka aja. Zaman sekolah juga sih, banyak teman laki-laki ketimbang perempuan yang main sama aku. Kadang suka merasa tak nyambung dengan yang dibicarakan ibu-ibu. Ah, semoga ya kita tak jadi pelaku mom shaming dan korban dari mom shaming juga

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!