Beranda Resensi Buku

[Review Buku] The Lost Symbol: Fakta atau Mitos?

“Terkadang legenda yang bertahan selama berabad-abad, bertahan untuk alasan tertentu.” Hal. 49

d

Judul Buku: The Lost Symbol

Penulis: Dan Brown

Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penerbit: Bentang Pustaka

Cetakan Pertama: 2010

ISBN: 978-979-1227-86-5

Tebal: 712 halaman

Sinopsis:

Robert Langdon, sang simbolog genius yang berhasil melewati masa-masa tersulitnya memecahkan kode, kini harus melewati satu malam panjang penuh misteri dan ketegangan.

Kisahnya dimulai saat Robert mendapatkan telepon dari sahabatnya, Peter. Melalui asisten Peter, Robert diundang mengisi ceramah yang digelar di Smithsonian. Karena tak ingin mengecewakan sahabatnya, Robert menyetujui undangan tersebut. Namun, sesuatu yang tak diduga sama sekali, mengacaukan acara Peter Solomon. Robert Langdon telah ditipu oleh asisten palsu Peter. Sebuah tangan kanan yang tertancap di bawah Rotunda Capitol, telah menyeret Robert dalam teka-teki yang berhubungan dengan kelompok organisasi yang paling kontroversial, freemasonry. 

My Review

Kali ini, dalam buku The Lost Symbol, sang penulis yaitu Dan Brown, mengambil kelompok Mason atau biasa dikenal freemansory sebagai latar ceritanya. Dilengkapi dengan teka-teki simbologi yang sudah turun temurun eksis diberbagai peradaban, membuat cerita ini semakin menarik.

Mason atau freemansory merupakan kelompok kontroversi yang diberitakan secara umum. Kabarnya, kelompok ini disebut sebagai kelompok anti agama, mempraktikkan okultisme, hingga dianggap bertujuan menguasai dunia. Sebelum membaca buku ini, aku memiliki persepsi yang sama.

Uniknya, latar waktu dalam buku ini hanya satu hari! namun, tebalnya luar biasa cukup membuat mengantuk bahkan sebelum membuka lembarannya. Tapi, aku salah menduga. Setelah membaca lembar demi lembar, aku seolah ditarik masuk ke dunia Robert Langdon, penulis sangat pandai memancing emosi dan imajinasi pembaca, hingga aku tak menyadari telah membaca buku ini sampai selesai.

Apa yang menarik?

Jika dikategorikan, maka kisah Robert Langdon masuk kategori Thriller history, memecahkan kode, mendapat ancaman dari tokoh paling antagonis yaitu Mal’akh, kemunculan pemimpin tertinggi CIA yaitu direktur Inoe Sato, dan pilihan menyelamatkan Peter Solomon menjadi kisah yang epik untuk dibaca.

Melalui tokoh Robert Langdon, seakan penulis menjelaskan sejarah dan makna simbol-simbol yang sebenarnya kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Simbol piramida misalnya. Melalui buku ini, aku mulai tertarik dengan penjelasan tentang simbol-simbol piramida. Bahwa, pada dasarnya, piramida mempresentasikan pencerahan. Piramida merupakan simbol arsitektural yang melambangkan kemampuan manusia kuno untuk membebaskan diri dari tingkatan duniawinya dan terangkat ke surga, menuju matahari emas, dan pada akhirnya menuju sumber tertinggi pencerahan. Begitu pun dengan makna simbol-simbol lainnya yang tak asing kita jumpai. Hal ini, tentunya jauh dari pemberitaan yang sering dibesar-besarkan media. Apakah ini fakta atau mitos tentang peradaban kuno? Entahlah. Yang jelas, pencarian Robet Langdon akan simbol terakhir yang erat hubungannya dengan kelompok Mason, mengandung filosofi kehidupan, keyakinan dan ilmu pengetahuan.

Hal yang menarik lainnya adalah tentang ilmu pengetahuan, lebih fokusnya tentang ilmu noetic, ilmu yang mempelajari tentang kesadaran intuitif manusia (wikipedia). Inilah yang menambah kekayaan dalam buku ini, kisah Robert Langdon yang harus memecahkan teka-teki dalam sebuah piramida tersegel, dirangkaikan dengan ilmu pengetahuan.

Tokoh yang berperan dibagian ini adalah Katherine Solomon. Seorang ilmuan sekaligus adik Peter Solomon yang menghabiskan puluhan tahun meneliti ilmu noetic di salah satu gedung Washinton DC. Ilmu noetic, mempelajari tentang potensi sejati manusia. Saat membaca bagian ini, penulis berhasil membuat pembaca merenung. Tidak hanya itu, penulis melalui tokoh Katherine, seolah mengulik pemahaman pembaca akan potensi diri sendiri. Sikap Robert yang seakan skeptis akan fakta temuan Katherin dalam laboratoriumnya, serta keraguannya akan kebenaran kebijakan-kebijakan kuno melalui simbol, mewakili sebagian besar sikap pembaca yang juga skeptis akan potensi manusia dan peradaban kuno.

Bagi pecinta filsafat, barangkali buku ini tidak hanya menjadi hiburan semata, namun mengundang pembaca merenungkan hal-hal yang jauh lebih dalam.

Disajikan dalam narasi yang mudah dipahami, seolah penerjemah merupakan penulis buku itu sendiri.

Kenali dirimu, adalah sebuah pesan yang mengakhiri kisah Robert Langdon dalam pencariannya menemukan simbol yang hilang. Simbol ini, secara mengejutkan, ternyata memiliki makna yang mendalam.

Buku ini patut menjadi referensi tambahan bagi pembaca yang menyukai thriller history. 

Selamat membaca 🙂

 

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!