Resensi Buku

Dunia Anna

Judul: Dunia Anna
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-979-433-842-1
Tebal: 244 Halaman
MyRate: ❤❤❤❤

 

“Nova sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…” 
 
Bumi 2082,  nova sangat terkejut saat tiba tiba di terminal online-nya muncul surat dari nenek buyutnya, Anna. Surat yang ditulis 70 tahun lalu, tepat tanggal 12.12.12. Tepat saat nenek buyutnya berusia 16 tahun seperti Nova saat ini. 
 
Sungguh misterius, bagaimana mungkin 70 tahun lalu nenek buyutnya sudah tahu bahwa kelak cicitnya bernama Nova? Dan dari mana buyutnya tahu tentang keresahan-keresahan Nova? Tentang bumi yang sudah tak seindah dulu lagi, tentang spesies yang punah, tanah-tanah yang tenggelam, kutub yang meleleh. Dan, benarkah cincin rubi merah dari legenda Aladin, menjadi kunci untuk mengembalikan keseimbangan bumi? Cincin yang selama ini melingkar di jari Anna, nenek buyutnya? 
“Kita tidak akan dapat mengembalikan alam yang telah hancur.” Hal. 53

Anna, seorang gadis remaja yang sebentar lagi genap berusia 16 tahun di tanggal 12.12.12.

Anna yang berbeda dari kebanyakan anak pada umumnya. Merasa khawatir dengan pola pikirnya, Anna bersama orangtua berkali-kali dibawa ke psikiater. Dan terakhir, Anna mendatangi seorang psikiater di Oslo, dokter Benjamin. Namun, di luar dugaan Anna, Benjamin bukan seperti doketer psikiater pada umumnya.

Jonas, sang kekasih Anna, juga turut membantu Anna memecahkan 1001 permasalahan lingkungan. Mampukah Jonas membantu Anna?

 
“Memandang ke cakrawala malam-malam dunia ialah memandang ke dalam batas-batas kondisi kita…” Hal. 133
Ini pengalaman pertamaku membaca buku filosofi dalam bentuk novel. Sebelum Dunia Anna, Jostein Gaarder sebelumnya telah menulis buku Dunia Sophi. Sayangnya, aku belum membaca buku itu.
Kisah Anna bermula dari mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya. Mimpi itu seolah nyata di kehidupan Anna. Ada satu mimpi yang membuat Anna bertanya-tanya tentang dirinya sendiri.
Nova. Nama gadis yang ada dalam mimpi Anna. Nova adalah cucu Anna 70 tahun kemudian. Anna melihat banyak kesamaan dalam diri Nova, yang saat itu, Anna sudah sangat tua dan dipanggil Olla. Anehnya, seranngkaian mimpi itu, membuat Anna semakin bingung. Namun, ada satu permasalahan yang harus dihadapi Anna. Alam semesta!
Jonas, teman sekaligus pacar Anna sangat peduli padanya. Ia bahkan bersabar mengikuti alur cerita mimpi Anna. Baca bagian part ini aku sedikit iri dengan Anna. Hihi… Nggak apa-apa kan dikatai gila oleh orang lain, asal orang paling terdekatmu tidak.
Inti dari novel ini, adalah bagaimana penulis mengajak pembaca untuk merenung. Memikirkan alam sekitar yang pada dasarnya sudah kita cemari sebagai manusia. Apa sih tujuan kita hidup? Apa hanya sekedar mencari makan? Well, tentunya, jawaban itu ada dalam novel ini.
Alurnya sendiri cukup rumit menurutku, karena penulis mengajak pembaca untuk memasuki dunia mimpi. Di satu sisi, kita menjelejahi kisah Anna, sisi lain, dengan tokoh yang sama kita juga menjelajahi Nova dan Olla. But, memang butuh penghayatan baca novel filosofi kan? Hehe…
Pesan dari kisah Anna sudah pasti menyangkut alam sekitar. Tentang bagaimana kita punya tanggungjawab menjaga kelestarian alam. Dan uniknya, kisah Anna dikemas layaknya buku fantasi. So, buku ini recomended banget buat teman-teman penikmat filosofi.
Selamat membaca!
____
Nb: Tulisan ini merupakan pindahan dari blog lamaku 🙂

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!