Resensi Buku

The Orange Girl

Judul: The Orange Girl
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-979-433-925-1
Tebal: 256 halaman
MyRate: 💗💗💗💗

“Siapakah kita ini, yang hidup di sini?”

Bermula dari sebuah surat yang diberikan oleh Georg saat berulang tahun. Surat yang belum pernah dibaca sama sekali oleh siapapun, termasuk ibunya. Surat itu Georg temukan dalam sebuah komputer versi lama yang sudah usang, bersandi pula. Namun, Geog bisa membuka surat itu.
Sebelum meninggal, ayah Georg memiliki sebuah petualangan. Dan, kini Georg seperti dibawa ke masa saat ayahnya masih berusia 19 tahun melalui surat itu.
Ayah Georg bernama Jan Olav. Ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat misterius. Gadis itu, ia namakan gadis jeruk. Jan Olav, merasa seperti hidup dalam dunia dongeng, gadis itu datang dan pergi tanpa jejak namun, meninggalkan ribuan pertanyaan.
Jan Olav tidak menepati perkataan si gadis jeruk untuk bertemu setelah enam bulan. Jan Olav terus melakukan pencarian. Dan dalam pencarian tersebut, ia mulai mempertanyakan dirinya, tentang keberadaannya, tentang hidup ini.

“Kita tidak bisa berbagi masa lalu kita, Jan Olav. Pertanyaannya adalah apakah kita punya masa depan bersama?”

Awalnya aku mengira ini kisah cinta yang super romantis. Ternyata sama halnya dengan karya Jostein sebelumnya, buku ini masih menyelipkan filosofi tentang kehidupan.
Kisah cinta yang dialami oleh Jostein seperti kehidupan nyata kita. Setiap perjalanan seseorang, pasti akan menemukan sesuatu yang sangat spesial, terutama soal hati.
Dan, aku tertarik membaca buku ini. Bermula dari rasa penasaran Jan Olav, kemudian sosok gadis jeruk itu sendiri yang membuatku penasaran.
Aku menyukai kisah cinta mereka berdua. Sebuah rumus kehidupan yang sederhana menurutku.
Tapi jangan harap kalian akan terlena dan baper dengan kisah cintanya, karena yang menjadi titik poin dari buku ini adalah pertanyaan ayah Georg, tentang kehidupan. So, baca buku ini, pembaca akan dibuat banyak merenungi terutama pas ending!

“Daging bagi seseorang adalah racun bagi orang lain…”

“Apakah seseorang itu Georg? Apakah nilai seorang manusia itu? Apakah kita ini buka apa-apa, kecuali debu yang berserakan dan beterbangan ditiup angin?” Hal. 181

Di bagian akhir ini nih, pembaca mulai diajak merenungi banyak hal. Dan ini yang aku sukai dari buku ini.
Afterall, buku ini sangat pas banget untuk dibaca bagi teman-teman yang suka merenung. Daripada merenung sembarang kan hehe…

“Kadang-kadang lebih terasa menyakitkan bagi manusia untuk kehilangan sesuatu yang disayanginya daripada tak pernah memilikinya sama sekali.” Hal. 211

_____
Nb: Tulisan ini pindahan dari blog lamaku 🙂

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!