Warning: file_get_contents(http://ipinfo.io/34.204.169.76): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 429 Too Many Requests in /home/ainc4129/public_html/wp-content/plugins/nm-visitors/nm-visitors.php on line 97
Ashes In The Snow: Bisakah Sebuah Gambar Menyuarakan Kebebasan? - Ainhy Edelweiss
Beranda Review Film

Ashes In The Snow: Bisakah Sebuah Gambar Menyuarakan Kebebasan?

Review Film Ashes In The Snow-Jika hidup di masa penjajahan bagaimana kamu menghadapinya? bertahan atau menyerah?

Pertanyaan itu selalu muncul di benakku setelah menonton film sejarah. Sepanjang sejarah umat manusia, sepertinya hukum rimba selalu ada. Yang kuat yang bertahan. Apakah hukum itu masih berlaku sekarang? entah… namun yang pasti di masa lampau, pernah ada masa di mana hukum itu berlaku, menyisakan kisah pilu tak berkesudahan.

Sinopsis:

Di perang dunia II, saat pasukan sekutu melawan Nazi Jerman, Uni Soviet menjajah kawasan Eropa Timur. Pasukan Red Army Joseph Stalin merebut negara Lithuania. Pria, wanita, dan anak-anak dianggap musuh Soviet.

Hingga suatu malam, Red Army Joseph Stalin menjarah Kaunas, Lithuania tahun 1941. Semuanya dimasukkan ke dalam gerbong kereta Api tanpa bekal apapun. Memaksa semua warga di Kaunas mengikuti kemauan Red Army. Yang melakukan perlawanan akan di tembak mati.

Lina, seorang remaja yang memiliki bakat seni yang luar biasa, terpaksa harus mengubur mimpinya. Bersama keluarganya dan warga Kaunas terkurung di dalam gerbong kereta Api.

Mereka hanya bisa mengikuti perintah Red Army Joseph Stalin yang tidak manusiawi. Dalam sekejab, semuanya berubah. Warga Kaunas meninggalkan tanah kelahirannya, menuju sebuah tempat yang begitu asing penuh penderitaan. Bagaimanakah nasib Lina selanjutnya?

Let’s Talk…

How’s my opinion?

Sungguh, menonton film sejarah akan penjajahan itu sangat memilukan. Aku memikirkan bahagaimana orang-orang dulu bsia bertahan? jika aku ada di posisi mereka, entah apa yang akan kulakukan.

Film Ashes In The Snow, menceritakan tentang kebiadan Red Army Joseph Stalin, melakukan penyiksaan terhadap orang-orang tak bersalah.

Melalui film ini, saya mengagumi tokoh Lina (Bel Powley) seorang remaja dengan passion melukis. Bakat seni yang dia miliki begitu memukau. Lina mampu menggambar objek-objek apapun yang pernah dia lihat secara detail. Lina juga ikut diasingkan di Siberia bersama warga Kaunas lainnya, hidupnya berubah total. Tak ada lagi candaan dipagi hari bersama keluarga, tak ada lagi harapan ingin melanjutkan sekolahnya.

Di Siberia, Lina bersama ibunya, Elena (Lisa Loven Kongsli) harus bekerja secara paksa. Red Army memperlakukan mereka sangat kasar, bahkan warga Kaunas tidak diperbolehkan makan sebelum melakukan pekerjaan. Kalau di Indonesia, mungkin ini bisa dikatakan seperi ROMUSA (pekerja paksa).

Apakah semua Red Army Joseph Stalin tidak manusiawi?

Salah satu warga Kaunas yang ditembak mati

Baca juga: [Review Film] October

Ternyata di film Ashes In The Snow ini, juga menceritakan tentang seorang tentara pasukan Stalin yang masih manusiawi. Namanya Nikolai Kretzsky (Martin Wallstrom). Nikolai berasal dari Ukrania, ia sendiri menjadi bahan ejekan Red Army karena dianggap asing. Namun, Nikolai mampu meyakinkan komandan Red Army akan kelayakannya. Tapi, Nikolai mengalami pergolakan batin. Sisi kemanusiaannya masih ada, sementara di Red Army, menuntutnya harus membuang sisi kemanusiaannya.

Sesekali, Nikolai membantu Elena agar bisa mengambil jatah makan dua kali sehari. Namun, sikap Nikolai ini tak berlangsung lama. Sebuah insiden mengharuskannya melupakan sisi manusiawinya. Hingga Nikolai diangkat menjadi komandan, dan ditugaskan ke Laptev Sea. Dan di sanalah Lina bersama keluarganya harus bertahan melawan ekstrimnya musim dingin.

Apa yang menarik dalam film Ashes In The Snow?

Kemampuan Seni yang dimiliki Lina

Lina dan Elena

Saat menjadi tawanan Red Army, tak menyurutkan semangatnya untuk melukis. Bahkan dalam situasi sulit pun, Lina menuangkan perasaannya melalui sebuah lukisan. Di Siberia, Lina menyaksikan kebringasan komandan Red Army. Suatu hari ketika Lina dituduh menggambar peta, Lina dipaksa melukis wajah komandan tersebut. Namun, yang terjadi, Lina melukis wajah komandan Red Army sangat buruk.

Kemampuan melukis Lina pulalah sehingga Nikolai kembali memiliki sisi manusiawinya, tapi endingnya cukup sedih.

Baca juga: Crazy Rich Asians: Harta atau Cinta

Peace is Everything

Melalui film Ashes In The Snow, menyampaikan kepada penonton satu hal bahwa, peperangan hanya akan menyisakan kisah kelam, entah siapapun yang menang. Bahwa pedamaian lebih dari apapun.

Kisah Cinta Lina dan Andrius

Andrius (Jonah Hauer King) berkenalan dengan Lina saat di gerbong kereta api. Keduanya memiliki keterikatan satu sama lain. Selama pengasingan, Andrius berkali-kali menghibur Lina dan adiknya. Andrius pula yang sering mencuri pulpen demi Lina untuk menulis. Kisah yang cukup romantis saat masa-masa terburuk bukan? tapi, endingnya bikin sedih dan penasaran.

Apa yang kurang di Film Ashes In The Snow?

Bagiku, film ini terlalu fokus ke tokoh Lina, sehingga rasa penasaran saya akan sejarah Red Army Joseph Stalin tak terjawab sepenuhnya.

But so far, film ini rekomended bagi sobat yang suka mengintip kisah masa lalu, khususnya kehidupan di masa penjajahan.

Sobat ada rekomendasi film serupa? share yuk di kolom komentar.


Credit Picture: Amazon.com

Release: 21 September 2018 (LA Fim Festival)

Genre: Drama

Written by: Ben York Jones

My Rate: 3/5

34 thoughts on “Ashes In The Snow: Bisakah Sebuah Gambar Menyuarakan Kebebasan?

  1. Bisa masuk list movie time nih. Btw aman ga mba kl ditonton bareng anak2? Ada kissing nya ga? Hehehe. Ku jg sama kaya mba. Kl nonton fiom sejarah suka ngebyang2in ada diposisi org2 pd masa itu. Kaya nonton drama korea yg judulnya chicago typewriter. Kereeeen.

  2. Keren ya bisa melukis sampai detail di tengah peperangan dan penindasan.

    Pastinya sangat tidak menyenangkan di posisi sepertu itu . menvisualisasikan
    Dalam lukisan. Ashes in show

  3. Filmnya fokus pada Lina mungkin karena mau menunjukkan sisi semangat yg dimiliki Lina ya. Aku jadi inget jaman kerja paksa di Indonesia ya latar belakang film ini. Aku belum nonton filmnya

  4. aku selalu suka nonton film sejarah mba pernah nonton yg judulnya The Boy In The Striped itu kisah nyata mba yg anak yahudi bersahabat sama anak petinggi militer. endingnya sedih coba deh tonton hehehe pokonya ttg Yahudi n Nazi

  5. Pas nonton film “to all the boys’ I’ve loved before” aku pernah lihat poster film ini di bioskopkeren.fun, bioskop streaming.
    Kayaknya seru ya filmnya, ya Ainhy…

  6. Sebenarnya saya gak terlalu suka dengan film-film sejarah. Well, kesukaan tiap orang berbeda ya. Tapi pas baca review film ini, saya malah penasaran dengan endingnya. Tuh, kan gak happy ending. Sedih deh :’)

  7. Saat ini masih ada lo mbak penjajahan di dunia. palestina itu masih dijajah. Tanah Palestina habis direbut sama Israel tapi kita ga bisa ngapa2in. Bahkan PBB aja ga bisa banyak protes.

  8. Menarik! Saya juga doyan banget nonton film2 tentang WW II mbak. Sudah nonton schindler’s list kah? Sejauh film tentang WWII yang saya tonton, itu yang paling bagus nilainya yang diusung (sekaligus agak ngeri wkwk)

  9. Betul, peperangan pasti akan menyisakan kisah kelam, mau itu di posisi yang kalah atau menang.

    Saya pernah nonton War Horse. Film tentang perang juga, cuma tokoh utamanya adalah seekor kuda. Berkali-kali nangis nonton film itu, tapi senangnya, filmnya happy ending.

Thankyuuu sobat telah berkunjung di blog Ainhy Edelweiss. Silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar yah, xoxo

Back To Top
error: Content is protected !!